[Review Buku] Fight Club | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Fight Club Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:03 Rating: 4,5

[Review Buku] Fight Club

You aren’t alive anywhere like you’re alive at fight club. Fight club isn’t about winning or losing fights. Fight club isn’t about words. You see a guy come to fight club for the first tome, and his ass is a loaf of white bread. You see this same guy here six months later, and he look carved out of wood. This guy trust himself to handle anything. There’s grunting and noise at fight club like at the gym,but fight club isn’t about looking good. There’s hysterical shouting in tounges like at church, and when you wake up Sunday afternoon you feel saved. 

Kau tidak merasa hidup di mana pun seperti kau hidup di fight club. Fight clubbukan persoalan menang atau kalah bertarung. Fight club bukan tentang kata-kata. Kau lihat seorang lelaki datang ke fight club untuk pertama kali, dan bokongnya bagaikan segumpal roti putih. Kau lihat orang yang sama enam bulan kemudian, dan ia tampak seolah diukir dari kayu. Lelaki ini mempercayakan segalanya pada diri sendiri. Ada lenguhan dan bunyi-bunyian di fight club seperti yang terdengar di pusat kebugaran, tapi fight club bukan persoalan tampil bagus. Ada teriakan tertahan seperti di gereja, dan ketika kau terbangun di Minggu sore kau merasa telah diselamatkan. 
Kesadaran diri untuk melakukan kehancuran total.

Maybe self-improvement isn’t the answer... Maybe self-destruction is the answer.”

At the time, my life just seemed too completed, and maybe we have to break everything to make something better out of ourselves.

Adalah seorang eksekutif muda yang merasa bosan pada kehidupannya yang begitu sempurna. Hingga akhirnya ia ‘bertemu’ dengan Tyler Durden, seseorang yang menunjukkan banyak hal padanya. Dari budaya konsumer hampa hingga membikin sebuah perkumpulan bernama Fight Club—sebuah pertandingan perkelahian rahasia tanpa aturan, tanpa batasan, dan kendali yang diadakan di ruang bawah tanah bar setelah tutup, dengan tujuan supaya para anggota Fight Club bisa melampaui hidup mereka yang sangat terkurung dan bodoh. Hingga ide Fight Club berkembang menjadi Project Mayhem yang akhirnya menunjukkan siapa sebenarnya sosok Tyler Durden tersebut. 

Ide besarnya. Perwujudannya satu demi satunya pun luar biasa. Salah satunya adalah ide memproduksi sabun menggunakan lemak manusia. Itu... keren! Apalagi pada bagian bagaimana Durden memperdaya ibu Marla untuk ‘memproduksi’ lemak (dengan mengirimkan sekota cokelat seberat 7 kilogram), dan bagaimana Marla mengetahui kenyataan bahwa produksi sabun (saponifikasi) itu menggunakan hasil sedot lemak ibunya. 

Profil penulis, Chuck Palahniuk, di halaman bagian depan buku ini ditulis seperti ini: Daripada duduk-duduk di Starbuck seperti remaja Amerika lain, Chuck memilih bertahan di kamar apartemen murahan di Portland. Kemudian dia menulis apa yang disebut orang sebagai sebuah gejala edgy (sesuatu yang sebaiknya tidak untuk ditebak). Dalam berkarya pun dia mempunyai gaya pemberontakan yang khas, yang kemudian dinamai sebagai gelaja wry atmospher, semacam segala sesuatu yang serba ‘ngaco’.

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Fight Club" karya Chuck Palahniuk