[Review Buku] Serial Pippi | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Serial Pippi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:42 Rating: 4,5

[Review Buku] Serial Pippi

Ada 3 buku Pippi :
1. Pippi Si Kaus Kaki Panjang
2. Pippi Hendak Berlayar
3. Pippi di Negeri Taka-Tuka

Pippilotta Viktualia Rullgardina Krusmynta Efraimsdotter Långstrump, atau
Pippilotta Delicatessa Windowshade Mackretmint Ephraim’s Daughter Longstocking, atau
yes, Pippilota Viktualia Gorden Tirai Permen Efraimputri Langstrum

Buku ini bercerita tentang gadis kecil dengan pipi bintik-bintik, senyum lebar, rambut warna oranye wortel cerah dan terang, dan kepang yang mencuat ke samping, kaus kaki yang berbeda di kaki kanan dan kiri, sepatu yang kebesaran, senyum yang lebar, dan tinggal di Pondok Serbaneka. Yay!

Pippi ini sangat kuat, bisa mengangkat kuda, dan tinggal di rumah sendirian hanya bersama seekor kuda dan seekor monyet bernama Tuan Nilson dan dibekali satu koper besar penuh berisi koin emas. Ayah Pippi yang pelaut dikabarkan sedang terdampar di sebuah pulau dan diangkat menjadi seorang raja orang hitam.

Pippi adalah segala imajinasi liar seorang anak-anak—yang benar-benar BEBAS. Tanpa pretensi, tanpa prasangka, dan selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif—meski kadang rasanya agak ‘nyeleneh’. Bahkan bagi orang dewasa di sekitar Pippi—mereka selalu bilang bahwa Pippi adalah anak nakal, aneh, urakan, dan tidak tahu tata krama. Tapi bukannya begitu ya? Maksudku, segala hal menyenangkan yang anak-anak senang lakukan kadang terlihat aneh atau dicap sebagai perbuatan nakal di mata orang dewasa (yang kepala dan pengalaman hidupnya telah dijejali berbagai banyak hal)?

Pippi berteman dengan Thomas dan Annika—anak-anak tetangga rumah. Berkebalikan dengan Pippi, Thomas dan Annika ini termasuk anak yang patuh terhadap segala tata krama yang diajarkan dan diterapkan oleh kedua orang tua mereka. Sejak berteman dengan Pippi, mereka selalu merasa senang (karena akhirnya merasakan kegembiraan khas anak-anak—bermain hingga naik ke cerobong asap yang membuat pakaian mereka kotor, mengudap limun jahe yang tumbuh dari dalam pohon, membikin kue di lantai, dan menjadi bajak laut) dan tidak sabar selalu ingin bertemu.

Meski memiliki kekuatan penuh, Pippi tidak begitu bisa membaca dan menulis karena sedari kecil ia sering berlaut—dan pendidikan membaca menulis kurang begitu penting ketika menjadi awak kapal. Ia memang bersedih hati, tapi ia selalu tahu dan bisa memberi solusi yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Ia menulis surat dengan tata bahasa dan tulisan yang berantakan, lalu mengirimkan surat itu kepada dirinya sendiri. Dan betapa ia melonjak-lonjak bahagia ketika seorang tukang pos mengantarkan surat (darinya) itu kepadanya. Sewaktu tukang pos itu bertanya, “kenapa kamu senang? Itu kan surat buatanmu sendiri?”

Jawab Pippi, “aku senang karena aku mendapat surat! Aku tidak pernah mendapat surat, aku ingin mendapat surat, dan sekarang aku mendapat surat! Itulah kenapa aku merasa senang!”

Yang lucu ketika ia ikut bersekolah bersama Thomas dan Annika. Kurang lebih ceritanya: saat itu pelajaran mitamitik dan ibu guru mengajukan pertanyaan, “ada empat potong kue, dan Thomas makan tiga potong. Berapakah sisanya?”

“Anak itu pasti sakit perut! Anak nakal! Thomas begitu rakus sampai perutnya sakit. Katanya padanya untuk tidak menghabiskan jatah teman-temannya.”

Pola pikir Pippi juga aneh. Ia menyiram bunga saat di hari hujan. Sewaktu Thomas dan Annika datang berkunjung dan bertanya heran, Pippi menjawab, “aku sudah berniat menyiram tanaman di halaman rumahku tadi sore, dan hujan pun tidak boleh menghentikan niatku.”

Belum lagi sewaktu permainan mencari harta karun. Bagi Pippi semua yang ditemukan di atas permukaan bumi adalah harta karun! Gelondongan benang, kaleng bekas, dan gelandangan yang tidur di jalan. Bahkan Thomas dan Annika harus berusaha keras melarang dan menyeret Pippi pergi ketika ia hendak memungut gelandangan tersebut untuk dibawa pulang. Pippi berseru, “ini kan juga harta karun!”

Dan ketiga serial Pippi ini semua sama serunya. Apalagi pada serial di Negeri Taka-Tuka, ketika anak-anak itu bermain di laut bebas, berayun menggunakan tali, melompat lalu mencebur masuk ke dalam laut, berenang-renang hingga kelelahan, dan berlindung di gua dengan bertumpuk-tumpuk kelapa muda itu... asik!

Tujuan hidup Pippi sebenarnya sederhana, meski mungkin tidak disadari oleh gadis kecil itu, yaitu, selalu menyenangkan orang lain dengan tulus. Itu kenapa aku amat-sangat-suka buku ini.

Karakter Pippi ini lahir dari permintaan anak perempuan Astrid Lidgren, Karin, yang bosan berbaring di tempat tidur dalam waktu lama karena sakit. “Tell me a story aboutPippi Longstocking.”

Lalu voila—lahirlah Pippi.

Pada tahun 1944, Astrid Lindgren memenangkan hadiah pertama untuk buku Pippi Långstrump (Pippi Longstocking untuk kategori ‘the most beloved children's books in the world’.

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Serial Pippi" karya Astrid Lindgren