[Review Buku] Anak Bajang Menggiring Angin | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Anak Bajang Menggiring Angin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:14 Rating: 4,5

[Review Buku] Anak Bajang Menggiring Angin

CERITA "Anak Bajang Menggiring Angin" ini dimulai dengan kisah awal mula kelahiran Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka. 

Seorang Begawan Wisrawa yang memutuskan untuk menemui Prabu Sumali demi memintakan Dewi Sukesi untuk dijadikan istri Danareja, anak Wisrawa. Tetapi sesampai di Alengka, Wisrawa memutuskan bersedia untuk menjelaskan apa itu Sastra Jendra pada Sukesi. Pada saat proses menjelaskan inilah, Batara Guru dan Dewi Uma mencobai kebersihan niat dua manusia ini, yang ternyata berakhir dengan niat yang berbelok. Wirasrawa yang berniat mendapatkan Dewi Sukesi untuk anaknya, malah menghamili perempuan itu. Dua manusia itu akhirnya diusir dari Lokapala. 

Hingga akhirnya di tengah sebuah hutan, Sukesi melahirkan kandungan, berupa darah, telinga, dan kuku manusia. Tak lama darah itu menjadi anak dengan sepuluh muka raksasa yang dinamai Rahwana. Telinga menjadi anak raksasa sebesar Gunung Anakan dan dinamai Kumbakarna. Dan kuku menjadi raksasa wanita yang tidak sedap baunya, Sarpakenaka. 

Lalu kisah Sugriwa, kisah pembebasan Dewi Sinta oleh Ramawijaya dan pasukan kera yang dipimpin Anoman, dan kisah-kisah lain.

Sindhunata memiliki kemampuan cara bertutur yang indah. Kadang di sebuah cerita atau buku lain narasi berbunga akam dibaca sambil mengerutkan kening. Apa ini maksudnya? Pilihan katanya sungguh membosankan—maksudnya tidak ada keluasan pengetahuan si penulis, kegugupan pemilihan contoh analogi, dan peletakkan konteks yang kurang tepat di rasa. Tapi kalau di buku ini tidak. Susunan kalimat memesona, dan sesuai konteks cerita. 

Dewi Sukesi bercahaya seperti menara emas di tengah lautan darah. Kecantikannya mengumandang ke segenap penjuru dunia. Bidadari pun menjadi rendah hati melihat keelokan putri raksasa yang berwujud manusia jelita ini. Sampai mega-mega mengurungkan niatnya menjadi hujan, supaya manusia bisa senantiasa terpukau akan putri bagaikan Dewi Ratih ini. Bibirnya membentuk senyuman bunga angsoka yang manja dibangunkan embun pagi. Matanya mengerling dengan kewaspadaan yang indah dari mata berlian kijang kencana. Rambutnya mengurai, menghelai bunga-bungan tanjung menyulankan kehidupannya di pelataran bunga kenanga. Busananya direnda benang lentera. Sebagai bulan yang tertutup pelangi, demikian keadaan buah dadanya yang jelita, tersembunyi di balik kain bersulamkan manikan Batari ratih. (hal. 7).

Penglihatan menjadi gelap karena debu yang bercampur dengan darah. Sementara petang pun tiba, dan malam pun datang memisahkan mereka. Para balatentara kera mundur ke Suwelagiri, dan raksasa kembali ke perkemahannya di depan benteng kota Alengka. 

Tanggal lima pada paro petang bulan yang kelima. Sunyi sepi dan gelap gulita. Bangkai para prajurit berserakan dimana-aman, di tengah tumpukan bangkai gajah dan kuda-kuda. Angin berembus pelan membawa bau anyir darah. Ada gumpalan darah para prajurit yang membentuk karang-karang padang berwarna merah. Lalu bagai sungai tanpa suara, mengalir darah-darah mereka. Maka terdengarlah suara rumput-rumput lelah, bersama nyanyian burung-burung malam yang berduka. (hal 272-272).

Tidak njelimet dan berisi banyak hal, selain kisah-kisah para manusia, betara, dan raksasa di atas. Seperti salah satunya mengenai ilmu lima pancer.

Kau dilahirkan dalam kesatuan dengan jagad semesta. Pada kelahiranmu kekuatan jagad semesta itu menyatu, menjadi milikmu, mewujud dalam rupa kawah, ari-ari (dua kembar), darah, dan pusar. Maka sebenarnya kau lahir bersama kakang kawah, adhi ari-ari, getih, dan puser. Kelima saudaramu itulah yang menemani kelahiran dan hidupmu. Kami semualah kekuatan jagad semesta yang telah melahirkanmu. Dan ketika kau dilahirkan, tersebarlah kawahmu di timur, darahmu di selatan, ari-arimu di barat, dan pusarmu di utara. (hal 208). 

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Anak Bajang Menggiring Angin" karya Sindhunata
[3] Ilustrasi pada artikel ini adalah gambar dari sampul buku yang bersangkutan.