[Review Buku] Samita ‘Bintang Berpijar di Langit Majapahit’ | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Samita ‘Bintang Berpijar di Langit Majapahit’ Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:28 Rating: 4,5

[Review Buku] Samita ‘Bintang Berpijar di Langit Majapahit’

BUKU Samita ‘Bintang Berpijar di Langit Majapahit’ ini adalah jenis historical fiction—fiksi sejarah, mengenai perjalanan salah satu murid perempuan Cheng Ho di bumi Majapahit.

Tak lama sebelum tiba di pelabuhan di Surabaya, Kitab Kutub Beku milik Laksamana Cheng Ho hilang. Setelah itu seorang panglima terbunuh dengan bekas luka di dada yang dikenali sebagai salah satu jurus yang diajarkan dari Kitab Kutub Beku. Saat sang Laksamana memutuskan untuk segera bertolak, salah satu murid perempuannya, Hui Sing, memohon ijin untuk tinggal dan kembali ke kerajaan di Mojokerto.

Saat Hui Sing berpisah dengan awak kapal dan berjalan di atas bumi Jawa, saat itu pulalah petualangannya dimuali. Ia bertemu dengan banyak pendekar, dan mengalami banyak kisah.

Buku fiksi sejarah ini asyik. Penceritaannya tidak bertele-tele. Kalimatnya tidak berbunga-bunga berlebihan, tentu saja (bisa dikatakan) ini novel silat. Aku tidak kesulitan menghapalkan nama-nama masing-masing pendekar, aku tidak kesulitan menghapal jalinan kisah mengenai pertarungan-pertarungan antar pendekar, aku masih bisa dengan mudah mengikuti alur ceritanya. Dan aku bisa begitu menikmati cerita sejarah yang dipaparkan di dalamnya.

Kisah cinta para pendekar yang sangat romantis dengan cara yang tidak biasa (baca: pahit) adalah kisah cinta antara Candra Windriya – Pendekar Seruling dengan Ramya, yang karena terjatuh ke dalam jurang dan dirawat Dewi Kecapi Maut, ia ‘bermetamorfosis’ menjadi Pendekar Setan Kecapi Bisu yang sangat kejam. Sewaktu Ramya masih berada di dasar jurang, Windriya selama bertahun-tahun setia menunggungnya. Dan hingga akhirnya...

Widriya mulai bersyair. Itulah teman hidupnya. Kata-kata yang mengalir lewat lidahnya, mewakili hati, menghibur kesendirian yang ramai. Itu pula yang ia lakukan dua tahun terakhir setelah memutuskan untuk tinggal di bibir jurang Medangkamulan. Ia kemudian mulai meniup-niup lubang seruling itu, berhantian memunculkan irama syahdu. 

Sampai berapa lama, Windriya terus menerus seperti itu. Hingga ia benar-benar puas. 

Windriya menghentikan permainannya. Dia lalu menoleh ke arah Setan Kecapi yang tadi bermeditasi. Kosong. Perempuan itu sudah lenyap. Tanpa suara, tanpa kata pamit. Mata Windriya sayu. Ia harus menunggu lagi. (hal. 346)

Selain itu, cerita inti mengenai Hui Sing, yang oleh Sad Respati diberi nama Samita, berakhir dengan pertarungan luar biasa. Beberapa jam setelah melahirkan ia harus memacu kuda demi membantu Respati bertarung melawan musuh bercadar hitam. Setelahnya ia pergi dan menghadapi prajurit pilihan Keraton Majapahit. Pertarungan yang begitu mati-matian—mengingat ia baru saja melahirkan.

Jurus-jurus serangan yang berangkat dari tiga baris huruf palawa Jawa—Hanacaraka, dengan apik diterjemahkan ke dalam gerakan-gerakan menyerang yang mampu menghancurkan barisan lawan.

Beberapa kutipannya:

Da. Dumadining dzat kang tanpa winangenan. Menerima hidup apa adanya.

Ta. Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa. Mendasar, sepenuh hati, satu pandangan, ketelitian dalam memandang hidup.

Sa. Sifat ingsun handulu sifat Gusti. Membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.

Wa. Wujud hana tan kena kinira. Ilmu manusia hanya terbatas, namun penerapannya tanpa batas.

La. Lir handaya paseban jati. Mengalirkan hidup semata pada tuntutan.

Pa. Papan kang tanpa kiblat. Kekuasaan Gusti yang ada di segala arah.

Dha. Dhuwur wekasane endek wiwitane. Mendari puncak dimulai dari dasar.

Ja. Jumbuhing kawula lan Gusti. Berusaha memahami kehendak Gusti.

Ya. Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi. Yakin atas titah Gusti.

Nya. Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki. Memahami kodrat kehidupan.

Ma. Madhep mantep manembah mring Gusti. Yakin, mantap dalam menyembah Gusti.

Dan lain-lain. 

Meski ada terjemahan dalam bahasa Indonesia, pembaca akan lebih senang ‘menerima’ penjlentrehan bahasa Jawa-nya, tentu saja, karena aku lahir sebagai orang Jawa sehingga memiliki kedekatan rasa terhadap kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa tersebut. Tapi sejauh ini, arti dalam bahasa Indonesia tersebut tidak mengganggu—jadi, ya sudahlah.

Lalu juga ada penjabaran larik demi larik di setiap awal bab yang mengawali sub-bab sub-bab di dalamnya, seperti:

Da-Ta-Sa-Wa-La: manusia telah diciptakan sampai dengan data (saatnya), tidak bolehsawala (mengelak). Ia dengan segala atributnya, harus bersedia menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya: sanggup memahami kehendak Zat pemberi hidup, padha (sama). Dialah yang jaya (menang) sungguh-sungguh, bukan menang-menangan atau sekadar menang.

Betapa falsafah (hidup) Jawa begitu kaya penuh makna—menuju yang Satu.

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Samita ‘Bintang Berpijar di Langit Majapahit’" karya Tasaro
[3] Ilustrasi pada artikel ini adalah gambar dari sampul buku yang bersangkutan.