[Review Buku] Ways To Live Forever (Setelah Aku Pergi) | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Ways To Live Forever (Setelah Aku Pergi) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:30 Rating: 4,5

[Review Buku] Ways To Live Forever (Setelah Aku Pergi)

List No. 1 – Five Facts About Me:

1. My name is Sam.
2. I am eleven years old.
3. I collect stories and fantastic facts.
4. I have leukimia.
5. By the time you read this, I will probably be dead.

Itu salah satu isi buku harian Sam. Sam McQueen adalah anak laki-laki 11 tahun penderita leukimia dan divonis akan segera meninggal dunia. Itulah kenapa ia rajin membikin catatan mengenai fakta-fakta, pertanyaan, dan mimpi yang ingin terwujud selama minggu-minggu terakhir kehidupannya.

Selain di atas, buku harian Sam juga berisi The Question That Nobody Answers:

1. What is it like to die?
2. How do you know when you’re die?
3. What happens afterwards?
4. Why do we have to die anyway?

Well, ceritanya tidak termasuk cerita pedih yang menyayat hati. Oh, tentu saja tidak, coba baca tulisan Sam yang ini: Seharusnya upacara kematian dibuat asyik. Para pelayat jangan menggunakan pakaian hitam. Kalian semua mesti menceritakan kisah-kisah lucu tentang aku, jangan yang sedih-sedih.

Sam selalu bersemangat dan benar-benar ‘bersenang-senang’ memanfaatkan sisa hidupnya dengan berusaha mewujudkan semua keinginannya, seperti menonton film horor, film dewasa, merokok, dan mendapatkan ciuman pertama dengan seorang gadis. Ia bahkan berhasil mewujudkan keinginannya untuk naik balon Zeppelin! Ia melakukan hal-hal yang menyenangkan tersebut bersama adik perempuannya, Ella, dan temannya Felix yang juga mengidap penyakit kanker.

Kematian adalah suatu hal yang harus siap dihadapi siapa saja—dan siap diterima kenyataannya oleh orang terdekat yang ditinggalkan. Untuk alasan yang sangat personal, aku merasa sedih saat membaca bab terakhir buku catatan dari Sam, dan juga sebuah catatan yang ditulis oleh ibunya:

“Sam died quietly in his sleep. He was in no pain.”

Things I Want to Happen After I die: You’re allowed to be sad, but you’re not allowed to be too sad. If you’re always sad when you think about me, then how can you remember me?

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Ways To Live Forever (Setelah Aku Pergi)" karya Sally Nichols