[Review Buku] No Country For Old Men | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] No Country For Old Men Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:03 Rating: 4,5

[Review Buku] No Country For Old Men

Brutal.

Karena Llewelyn Moss melarikan uang dari truk yang membawa heroin bubuk cokelat Meksiko, dengan orang-orang yang telah tertembak mati, ia menjadi target pengejaran seorang Anton Chigurh, orang yang disewa untuk mendapat dan membawa kembali uang tersebut. 

Bagian awal sudah memesona pada bagaimana sosok Chigurh ditampilkan dengan begitu keji. 

Chigurh mengalungkan tangannya yang terborgol ke kepala deputi dan melompat ke udara dan menghantamkan kedua lututnya ke bagian belakang leher deputi dan menarik kembali rantai borgolnya. Mereka terjatuh ke lantai. Deputi berusaha menyelipkan tangannya ke sela rantai borgol yang mencekiknya tapi tidak berhasil. Dia berdeguk dan mulutnya berdarah. Dia tercekik darahnya sendiri. Chigurh menarik semakin kuat. Borgol berlapis nikel itu menusuk ke tulang. Arteri leher sebelah kanan deputi tersobek dan darah muncrat ke seberang ruangan mengenai tembok dan mengalir ke bawah. –hal. 15

Adegan menarik adalah ketika Chigurh menyulut api di dalam tangki bensin sebuah mobil, ia meninggalkannya berjalan tenang sedikit terpincang masuk ke dalam apotik, di belakangnya di seberang jalan mobil meledak terbakar, orang-orang menjadi riuh, ia mengambil obat-obat yang ia butuhkan lalu berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun. Bahkan Smith yang diperankan Clive Owen dalam Shoot ‘Em Up pun sepertinya tidak akan mampu bertindak seperti demikian.

Karakterisasi yang kuat. Anton Chigurh seperti yang beberapa disinggung di atas. Llewelyn Moss, seorang laki-laki jelang empat puluh yang memiliki keteguhan hati. Di beberapa bagian, ketika ia sedang melarikan, ditunjukkan sikap betapa ia mencintai dan mengemong istrinya ...

Perempuan itu duduk tegak di tempat tidur. Kau bikin aku ketakutan, Llewelyn. Kau kena masalah ya?

Tidak. Tidur lagi saja.

Tidur lagi saja.

Aku akan pulang sebentar lagi.

Sialan kau, Llewelyn.

Moss berjalan ke pintu dan memandang istrinya. Kalau aku tidak bisa pulang gimana? Apa itu kata-kata terakhirmu? —hal. 36

Baby aku tidak mau kau pergi. Mau ke mana sih? Aku tidak ingin kau pergi.

Darling sebenarnya kita punya pikiran yang sama, aku juga tidak ingin pergi. Aku akan kembali. Tidak usah nunggu. —hal. 37

dan orang yang setia. Ketika ditawari pelacur, ia menunjukkan jari tangan yang dilingkari cincin kawin. “Aku sudah menikah.” Juga ketika ada seorang gadis yang menawarinya untuk bermain seks dan si Moss menolak.

Ada banyak salesman yang berkeliling dan kau akan membeli sesuatu.

Tapi, sayang, kau sedikit terlambat. Sebab aku sudah beli. Dan kupikir aku akan tetap setia dengan apa yang aku punya. –hal. 269

Carla Jean, seorang gadis 19 tahun yang dinikahi Llewelyn saat ia usia 16 tahun. Dan Ed Tom seorang sherrif yang telah lama bertugas. Melalui tuturan narasi bersudut pandang orang pertama bisa dilihat mengenai sikap dan cara pandang hidupnya terhadap kejahatan. 

Meski secara keseluruhan ini adalah cerita brutal, McCharty masih menyisipkan beberapa dialog, suami istri, yang segar. 

Istrinya berbaring santai di sofa sedang menonton TV dan minum sebotol Coke. Aku boleh minta kuncinya? kata perempuan itu.

Mau ke mana?

Beli rokok.

Rokok.

Ya. Llewelyn. Rokok. Aku sudah duduk seharian di sini.

Kenapa tidak sianida saja sekalian? Gimana? –hal. 32


Mereka parkir agak jauh dan keluar dan berdiri meliat mobil yang terbakar itu. Kita bisa merasakan panasnya di wajah. Bell berputar dan membuka pintu dan menggandeng tangan istrinya. 

Kita mestinya bawa sosis, kata wanita itu.

Ya. Marshmallers. –hal. 84

Kesulitan yang ditemukan di awal sebenarnya adalah mengenai bertutur McCarthy yang sedikit berbeda. Ia sama sekali tidak menggunakan tanda petik dalam dialog. Juga pilihan kata yang disengaja “meliat”, “tau”, “merubah”. Dan begitu banyak “dan” dan detail tindakan. Di awal pembaca bisa menyiasatinya dengan mengubah pola pikir seperti sedang membaca naskah drama; dialog dengan narasi samping yang ditulis menjadi satu—kalau tidak begitu akan lost berkali-kali. 

Chigurh tidak menjawab. Dia keluar dari truk dan berdiri meliat ke arah lereng di bawah sinar bulan. Sepi senyap. Orang di dalam Bronco itu keliatannya belum mati dalam waktu tiga hari atau kira-kira selama itu. Dia mengambil pistol dari ikat pinggang celana panjangnya dan berputar ke arah kedua orang tadi berdiridan menembak mereka masing-masing sekali di kepala dalam tempo yang cepat dan meletakkan pistolnya kembali ke ikat pinggangnya. Orang kedua sebenarnya sudah setengah berbalik ke arah orang yang satunya waktu ia terjatuh. Chigurh melangkah di antara mereka dan mencondongkan badannya dan mengambil tali bahu dari orang kedua dan menyandang senapan Glock sembilan milimeter yang dia bawa dan berjalan kembali ke kendaraannya dan masuk dan menyalakan mesin dan duduk dan mengemudi keluar dari kaldera dan kembali ke jalan raya. –hal. 76.

Dengan ilmu bertutur yang baik, seorang penulis akan bisa menguasai pembaca secara habis-habisanDalam buku ini, pembaca dipaksa tunduk ketika membaca ceritanya.

Ada banyak teknik bertutur dari buku ini. Menyusun alur cerita. Sudut pandang penokohan. Dan juga pengadeganan. ***

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini akan lebih baik untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu buku berjudul "No Country For Old Men " karya Cormac McCarthy