[Review Cerpen] Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:01 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri

Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tidak hanya bau, tapi juga buas, tajam, beracun, dan bisa membunuh siapa saja.

Di penghujung 2014, rubrik cerpen koran Kompas Minggu, 28 Desember 2014 menghadirkan cerpen berjudul “Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri” oleh Mashdar Zainal. Cerita dibuka dengan adegan seorang perempuan duduk tenang sembari menjahit bibirnya sendiri. Sulamannya rapi, tak ada darah mengalir dan luka berarti, dan rapat. Rapat serapat-rapatnya rapat. 

Perempuan ini gemar sekali bicara; pada siapa saja, mengenai apa saja. Hingga suatu ketika mulutnya berbusa-busa hingga mengeluarkan bau tidak sedap. Oh, ternyata tidak cuma itu. Bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tak hanya bau, namun juga buas, tajam, beracun, dan bisa membunuh siapa saja. 

Perempuan itu kemudian menyadari sesuatu;
  1. Bapaknya tewas terperosok di dasar jurang dengan tubuh penuh luka bekas diterkam binatang buas. Saat ditelusuri, ternyata dari bujukannya untuk pergi berburu saat malam butalah yang telah mencelakakan bapaknya. 
  2. Ibunya ditemuan tewas dengan beberapa luka tusukan di tubuh sebagai korban perampokan. Sebelum kejadian, si tokoh perempuan ternyata kerap menggembar-gemborkan ketidaksukaannya pada ibunya; pelit padahal memiliki uang dan perhiasan yang disimpan dalam dompet butut yang selalu dibawanya pergi. 
  3. Adik perempuannya menenggak racun karena si tokoh perempuan bercerita dengan bumbu-bumbu mengenai perselingkuhan kekasih adiknya. Tak kuat menanggung kesedihan, si adik perempuan itu memutuskan mengakhiri hidup.


Sadar bahwa dirinya telah berubah menjadi monster yang telah mencelakakan dan dijauhi banyak orang, ia memutuskan untuk menjahit mulutnya sendiri. Menutup pintu bencana yang selama ini telah menyusahkan banyak orang. 

Seusai menyulam bibir dengan begitu rapat, masalah ternyata tak berakhir di situ. Meski lega karena pintu bencana itu telah tertutup sempurna, ia tak lagi bisa tersenyum. 

**
Bila divisualkan dalam film, misalnya, paragraf-paragraf pembuka cerpen akan menghasilkan gambar dan kesunyian dan luar biasa kuat. Di sebuah ruangan, seorang perempuan duduk sembari menyulam bibirnya sendiri. Nuansa warna abu-abu, tanpa skoring atau musik apapun, dan tanpa sedikit pun pergerakan kamera. Ketenangan luar biasa, tanpa ada ekspresi nyeri, diperlihatkan si tokoh; 

Tangannya bergerak runtun. Jarum mungil itu ia tusuk-tusukkan dengan tertib ke bibirnya. Lantas ditariknya kembali jarum mungil itu perlahan-lahan. …  Ia menjahitnya begitu saja, seperti menjahit sebuah kain yang terbelah. … Ia merapatkan jahitan itu serapat-rapatnya. … Benar-benar rapat. Serapat-rapatnya. 

Juga penggambaran adegan si perempuan saat menyadari bahwa ialah penyebab celaka anggota keluarga. Menggunakan alur mundur (flashback), per bagian kisah diceritakan dengan baik. Sebelum meninggal dunia, masing-masing anggota keluarga tersebut mengatakan semacam wasiat pengingat (yang kelak juga merupakan petunjuk cara mati bagi si pengucap) bagi si tokoh perempuan. 

“Mulutmu adalah harimau, jika kau tidak bisa menjadi pawang yang baik, jika kau tak bisa mengendalikannya dengan baik, kau akan diterkamya sendiri.”

Si anak perempuan tak bisa mengendalikan mulut, maka bapaknya tewas diterkam harimau hingga terlempar jatuh ke ceruk jurang. 

“Mulutmu adalah pisau, Nak. Tajam dan bisa menghunjam apa saja. Jika kau tak menggunakannya dengan baik, kau bisa teriris sendiri olehnya.”

Beberapa bulan setelah si bapak meninggal dikoyak binatang buas, ibunya ditemukan tewas dengan beberapa luka tusukan di tubuh sebagai korban perampokan.

“Mulutmu adalah gua beracun, jadi, lebih baik tidak terlalu sering kau membukanya. Kau tahu, racun itu sangat berbahaya, bisa membunuh siapa saja.

Berselang waktu setelah mendapat laporan yang telah dibumbui supaya lebih pedas oleh kakaknya mengenai kekasihnya yang berselingkuh, si adik perempuan menuntaskan nyawa dengan menenggak sebotol racun serangga. 

Motif 

Penceritaan adegan per adegan ini akan menjadi tajam apabila didukung dengan motif tindakan yang kuat. Sayangnya, motif pergerakan tokoh-tokohnya sepertinya kurang begitu diperhatikan. 

Ya, cerpan yang baik sebaiknya memang tidak terlalu menjelas-jelaskan. Pembaca sudah cukup pintar untuk menarik kesimpulan sendiri. Namun, sebuah cerita baik yang akan menjadi kurang apabila alasan atau latar belakang tokoh-tokohnya melakukan tindakan tertentu tak dapat ditemukan. Tentu tak dalam bentuk penjelasan berlarat-larat, cukuplah satu atau dua kalimat, satu atau dua peristiwa yang mampu membikin pembaca ber-“Ooh, ya, ya.”

Contoh pertanyaan motif yang bisa diajukan; mengapa si tokoh perempuan (sangat) menginginkan bapaknya pulang membawa hasil buruan yang berlimpah-limpah? Sampai-sampai ia perlu membujuk orangtua itu pergi berburu ke hutan malam-malam dengan pertimbangan bahwa saat malam semua binatang yang bersembunyi akan keluar dari sarang.

Apakah ia anak tunggal sehingga setiap permintaan dipenuhi? Tidak, ia punya seorang adik. Apakah kondisi ekonomi keluarga mereka sedang berkekurangan? Tidak juga, ah. Meski si tokoh perempuan sering menyebut pelit, ibunya memiliki banyak perhiasan bernilai jutaan. 

… , ibunya punya banyak uang dan perhiasan yang nilainya jutaan. 

Selain itu, bapaknya tewas terlebih dulu sebelum si ibu. Bila kemudian terjadi sebaliknya, barangkali akan menjadi masuk akal bila bapaknya (yang notabene seorang pemburu tentunya lebih paham risiko berburu saat malam buta) nekat berangkat berburu dan nahas menemui ajal.

Pembahasan mengenai motif ini kemudian akan ada hubungannya dengan emosi saat si tokoh perempuan mengambil keputusan menjahit bibirnya sendiri. Bila ditilik dari paragraf dua dan tiga cerita, juga interaksi olehnya dengan anggota keluarga, mestinya si tokoh ini berhati culas, keji, tak pedulian, dan beberapa tabiat kurang baik lainnya. 

Tiga peristiwa kematian anggota keluarganya secara tidak langsung telah disebabkan olehnya yang tak mampu menjaga lisan. 

Seberapa terguncang ia akan kesadaran kenyataan yang didapatnya ini?

Biasa saja? Mengingat bahwa ia adalah seseorang yang tak memiki jiwa welas dan asih.

Bahagia? Perhatikan saja bagaimana interaksi si tokoh perempuan dengan ibu dan adik perempuannya. 

beberapa waktu, jauh sebelum kejadian itu, ia selalu berkoar pada banyak orang, bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang sangat pelit. … Ketika itu, ia juga sempat menjabarkan kebiasaan buruk ibunya, yang suka menyembunyikan aneka perhiasan dalam dompet butut ….

…. secara tak sengaja, ia memergoki kekasih adiknya tengah berduaan dengan gadis lain. Dan baginya, perkara semacam itu adalah perkara yang wajib ia ceritakan. Maka sesampainya di rumah, ia menceritakan perselingkuhan itu pada adiknya, dengan sedikit bumbu-bumbu supaya semakin pedas. 

Ataukah bersedih? Bila kemudian ditilik dari keputusannya menjahit bibir supaya tak lagi membuka untuk mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan tidak baik. 

Atau?

Emosi ending

Kesunyian yang sudah digambarkan apik di awal, tak bisa direpetisi tanpa kejelasan emosi apa-apa di bagian akhir. Baik, katakanlah ia adalah perempuan yang tak memiliki perasaan. Karena, alih-alih bersedih karena kehilangan anggota keluarga, 

Dengan saksama, ia memerhatikan mulutnya sendiri yang telah rapat oleh sulaman benang. …. Pintu bencana yang selama ini terbuka telath sempurna ditutupnya. Detik itu, ia hendak tersenyum puas. 

ia lebih mencemaskan keadaan dirinya yang kini tak lagi bisa tersenyum. 

Namun, ketika hendak tersenyum, mendadak ada yang sangat nyeri di sekitar bibirnya. Seketika itu pula ia menyadari, bahwa bibirnya tak mungkin bisa ia ajak tersenyum lagi.

Tapi ini akan menjadi ending  yang akan dipertanyakan. Mengapa harus ketakmampuannya tersenyum yang kemudian dipersoalkan?

Bagaimana jika si tokoh perempuan digambarkan mengalami perasaan sedih? Misal, penulis menjadikan adegan ending menjadi kurang lebih seperti ini; Setelah selesai menjahit bibir, ingatan mengenai keluarganya yang telah tiada berkelebat-kelebat di pikiran. Ia duduk diam. Pintu bencana memang telah berhasil ditutupnya rapat-rapat. Tapi….

Perempuan itu meneteskan sebulir air mata. **

Selain menjadikannya sebuah adegan yang kuat, satu guliran air mata akan memberi ‘nyawa’ pada cerita. Pun tafsir yang lebih luas pada pembaca; perempuan itu menyesal, atau ia lega namun sedih karena bagaimanapun perbuatannya menjahit bibir tetap tak bisa mengembalikan keluarga, atau yang lain. 

Bila pengadeganan ini kembali kita bayangkan secara visual menggunakan media film, cerita akan memiliki kesunyian (yang kemudian tampak kontras dengan kondisi flashback yang telah dibangun sebelumnya; saat ia masih suka berbicara apa saja) ending yang epik.

**
Sebagai cerpen yang memuat nilai ‘dakwah’ bahwa kita sebaiknya selalu menjaga perkataan, ucapkanlah hal yang baik-baik saja atau orang lain akan celaka, tentu tulisan ini bisa dibilang telah sangat berhasil. Terlebih dengan kondisi dunia bicara kita yang semakin diperluas dengan adanya perangkat bernama media sosial. Namun, dalam usaha menjaga keutuhan sebagai sebuah cerita pendek, Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri masih butuh pengolahan lebih daripada hanya sekadar nasihat bermutu. 

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri" karya Mashdar Zainal (Sila Klik Link Terlampir)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang di surat kabar bersangkutan.