[Review Cerpen] Pesta Para Penyontek | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Pesta Para Penyontek Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:22 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Pesta Para Penyontek

JUDUL cerpen Ghiyats Ramadhan yang dimuat di Harian Jogja pada 14 Desember 2014 membawa ingatan pada judul naskah drama karya dramawan Perancis, Jean Anouilh; Pesta Para Pencuri. Namun, tidak seperti cerita Pesta Para Pencuri yang kokoh secara struktur dan jalinan sebab akibat (plot), Pesta Para Penyontek, padahal memiliki tema cerita menarik, kedodoran di beberapa bagian.

Pesta Para Penyontek bercerita mengenai kota Enka yang memiliki hari besar bagi para penyontek. Pada hari itu semua penyontek dari yang amatiran hingga ulung diundang tanpa pandang bulu. 
Perayaan dilakukan dengan megah; sorak-sorai rakyat bergemuruh di segala penjuru, sebaran konfeti dari helikopter, ledakan petasan dan kembang api, dan baliho besar bertuliskan “Selamat Datang di Pestanya Para Penyontek”. 

Seorang pembicara bernama Karbon diundang untuk memberikan mata kuliah umum “Pemberdayaan Ilmu Contek-Mencontek”. Saat hendak menjelaskan sistematika menyontek yang baik dan skematis, seorang murid bernama Koma menyela pembicaraan dengan mengatakan bahwa sesungguhnya hal buruk tak butuh dirayakan. 

Merasa terus menerus disanggah, Karbon menembak Koma. Sebelum benar-benar mati, Koma mengatakan bahwa parade kali ini akan menjadi perayaan yang tak akan terlupakan seumur hidup. Secara tiba-tiba, tangan Karbon dan para peserta perayaan kemudian diiris oleh sesuatu yang tak nampak namun terasa seperti gergaji mesin berkekuatan banteng.

Dan pesan moral yang disisipkan pada kalimat terakhir (ini menjengkelkan, karena potensi sureal cerita yang telah terbangun apik dimentalkan oleh dakik-dakik pesan moral yang membosankan) menyebutkan bahwa sekecil-kecilnya perbuatan buruk, Yang Mahakuasa tahu harus berbuat apa. 
**
Tidak seperti novel, cerpen memiliki ruang sempit dan terbatas untuk bertutur. Hal ini menjadikan setiap keterangan sekecil apapun yang termaktub dalam cerita, harus bisa dipercaya ‘kebenarannya’ dan tidak boleh mubasir. 

Beberapa keteledoran dalam menyusun detail cerita dalam cerpen ini bisa diurai dengan menggunakan kata tanya; mengapa. 

Mengapa Pesta Para Penyontek diadakan?

Untuk pertanyaan alasan diadakannya perayaan dan latar belakang didirikannya kota Enka sudah berhasil dijelaskan oleh penulis dengan ’fakta’ yang menguatkan, patut, dan masuk akal. 

Kota Enka sengaja dijadikan tempat semacam les massal yang diperuntukkan bagi para pelajar yang ingin sekali mempelajari seni menyontek. Pendiri kota Enka adalah sekumpulan mahasiswa yang kebebasannya direnggut sistem yang memiliki banyak sekali peraturan, salah satunya adalah Karbon yang kemudian menjadi walikota pertama, sepuluh tahun lalu. 

Karbon meyakini bahwa cara terbaik meraih sesuatu adalah dengan belajar, yaitu belajar menyontek. Karena setiap manusia memiliki hawa nafsu untuk selalu menjadi pemenang, maka jalan keluar terbaik bagi sebagian orang yang hidupnya melulu dilanda kegagalan adalah dengan menyontek. 

Mengapa dirayakan besar-besaran?

Penjelas untuk menjawab pertanyaan di atas tak bisa didapatkan dalam cerpen Pesta Para Penyontek. Keterangan mengenai euforia para mahasiswa yang rela duduk lesehan di atas debu yang menjadikan mereka memiliki kemungkinan mengidap ISPA (namun mereka tak peduli) tidak bisa menguatkan. 

Baiklah, pesta adalah perayaan—yang kemudian bisa diterjemahkan dalam laku penuh keramaian. Tapi, coba tengok sebentar naskah drama Pesta Para Penyontek; tingkah tokoh-tokohnya digambarkan mengendap-endap dan cenderung bermain rahasia. Semua itu dilakukan bukan tanpa dasar, tapi disesuaikan dengan profesi yang sedang dibicarakan dalam naskah; pencuri.

Para penyontek yang sedang diangkat dalam cerpen ini juga memiliki kecenderungan sikap yang sama; mengendap-endap dan bersikap penuh hati-hati supaya tidak ketahuan dalam menjalankan aksi. Bila kemudian hari besar dirayakan secara riuh, hal ini tidak sesuai dengan karakter ‘tokoh’ yang sedang diangkat dalam cerpen. 

Seumpama parade digambarkan sebagai sebuah perayaan yang diam-diam dan dalam suasana mencekam, tentu cerita akan lebih membikin penasaran. Kehadiran Koma yang memberontak kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun akan terasa lebih kuat. Peristiwa penembakan tidak menjadi hambar. Dan yang paling penting, suasana riuh itu kemudian menjadi tidak bertentangan dengan situasi yang telah dibangun sendiri oleh penulis;

Pelatihan selama setahun yang mewajibkan seluruh mahasiswa harus mengisolasi diri dari dunia luar sudah cukup membuat otak mereka penuh dengan kelicikan dan tipu muslihat.

Dan satu lagi, dalam ilmu menyontek, kau tidak usah banyak bicara, mengerti?

Mengapa fisik Karbon digambarkan seperti itu?

Bila nama Karbon dianalogikan sebagai kertas karbon yang digunakan untuk ‘menulis ulang’ alias menyontek itu masuk akal. Namun, mengapa keadaan fisiknya digambarkan seperti ini;

Karbon adalah lelaki kurus, tubuhnya hanya tinggal berbalut kulit, wajahnya pucat pasi seperti kapas, pembuluh darahnya tercetak di sana-sini, terutama di bagian leher, seolah-olah siap putus kapan saja. Matanya bulat hitam, tapi kecil di bagian serbuk pasir, seakan hidupnya hanya tinggal secuil.

Apakah karena Karbon yang notabene pendiri dan pernah menjadi walikotan kota Enka sepuluh tahun lalu dilengserkan paksa oleh walikota baru sehingga hidupnya menjadi tidak baik dan serba berkekurangan? Lalu walikota baru mengundang Karbon kembali dengan tujuan membangkitkan minat untuk menyontek kembali atau apalah, dan Karbon bersedia asal diberi imbalan sebesar tiga triliyun? Tapi, bila benar demikian, hal tersebut akan sangat bertentangan dengan paragraf ini:

Walikota menyambutnya (Karbon, red) dengan rasa haru tiada tara. Karbon adalah pahlawan kota Enka. Darinya, kota Enka banyak mengalami kemajuan, baik di bidang pemberdayaan sumber manusia maupun teknologi yang hasi kerja mereka berupa motor, mobil, tank, pesawat terbang maupun kacamata sinar inframerah lakukeras di pasar dunia. Karbon adalah idola bagi seantero kota. 

Baiklah, idola yang juga seorang pahlawan dengan memiliki kondisi fisik memprihatinkan. 

Mengapa tangan diiris?

Pada akhir cerita dituliskan begini:

Dan tiba-tiba, tangan Karbon seperti ada yang mengiris, ia berteriak setengah mati, meminta tolong, mengaum-ngaum seperti singa kesakitan. Seperti wabah penyakit yang menular begitu cepat, seluruh murid merasakan hal yang sama, tangan mereka seperti ada yang memotong, tidak dengan pisau dapur atau silet, tetapi seperti gergaji mesin berkekuatan banteng.

Benar saja, parade para penyontek berubah menjadi parade pembuntungan tangan secara massal. 

Mengapa tangan yang dipilih penulis untuk dieksekusi oleh Tuhan Yang Mahakuasa (akhirnya, sekecil-kecinya perbuatan buruk, Yang Mahakuasa tahu harus berbuat apa—sungguh, ini masih menjadi bagian paling menjengkelkan karena seolah-olah pembaca dianggap bodoh sehingga harus dijejali khotbah membosankan macam demikian) sebagai balasan dari perbuatan buruk? Padahal perbuatan menyontek pada mulanya adalah mata, baru kemudian tangan yang bertindak. 

Beranjak dari pertanyaan “mengapa”, sekarang mengenai pilihan sudut pandang karakter. Dengan penggunaan PoV tiga, penulis maha tahu, cerita ini memiliki banyak ‘plot-hole’ atau ’lubang‘ yang membikin cerita tidak konsisten. Barangkali jika menggunakan sudut pandang, katakanlah PoV satu, yaitu Koma, cerita bisa menjadi jauh lebih menarik dan memiliki emosi. Koma sebagai karakter yang gelisah karena ketidakberesan perayaan, dalam hal ini menyontek kok dirayakan besar-besaran, datang dengan keinginan memprotes dan juga menggagalkan kegiatan Pesta Para Penyontek. 

Cerita pendek tidak berarti hanya berisi peristiwa tanpa mampu meggerakkan emosi pembaca, bukan? Penulis yang piawai mampu memanfaatkan segala ‘keterbatasan’ dalam cerita pendek untuk menciptakan sebuah kisah yang ciamik secara utuh dan kokoh. 

Bicara keberhasilan, penulis dalam menyisipkan pandangan pribadinya mengenai kondisi sosial yang sedang terjadi sekarang tampak sukses dalam beberapa kalimat berikut;

Manusia itu aneh sekali, yang buruk dipestakan, yang baik dimusnahkan.

Dalam setiap tubuh manusia selalu terdapat hawa nafsu. Salah satu yang paling vital adalah keinginan untuk selalu dilihat dan menjadi pemenang.

Negara kita ini sudah hancur, kenapa tidak kau hancurkan saja seutuhnya, hah?

Pada akhirnya, semua akan mendapatkan balasannya. Dan parade ini akan menjadi parade yang tidak akan Anda lupai seumur hidup Anda. 

Oke, kan? Oke. 

Satu tambahan lagi sebelum pembacaan ini diakhiri, tidakkah dua paragraf ini menggambarkan kondisi yang sangat bertentangan?

Kota Enka banyak mengalami kemajuan, baik di bidang pemberdayaan sumber manusia maupun teknologi yang hasil kerja mereka berupa motor, mobil, tank, pesawat terbang maupun kacamata sinar inframerah laku keras di pasar dunia….

Walikota mengeluarkan sehelai cek bertuliskan nilai uang tiga triliun… namun

Seluruh mahasiswa dan mahasiswi sudah duduk rapi, lesehan di atas debu yang akan membuat siapapun mengidap penyakit ISPA. 

Tidak bisa dipungkiri, meski cerita pendek tidak membutuhkan napas sepanjang seperti saat menulis novel, kecermatan dan ketelitian penulis dalam menyusun detail cerita mutlak diperlukan. ***

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu cerpen "Pesta Para Penyontek" karya Ghiyats Ramadhan (Sila Klik Link Terlampir)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang di surat kabar bersangkutan.