[Review Cerpen] Joyeux Anniversaire | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Joyeux Anniversaire Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:43 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Joyeux Anniversaire

KAMI berciuman lembut, lebih lembut dari siapapun yang pernah jatuh cinta.

Cerpen Joyeux Anniversaire (bahasa Perancis, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti Selamat Ulang Tahun) milik Tenni Purwanti pernah dimuat dalam rubrik cerpen koran Kompas Minggu mengangkat tema cinta seorang perawat rumah sakit jiwa kepada salah seorang pasien wanita. 

ZÉphirine Droup anak seorang importir parfum ternama dari Paris. Ibunya asli Prancis dan ayah asli Bandung—itu mengapa parasnya cantik sekali; wajahnya memiliki bercak-bencak merah khas gadis Eropa, rambutnya panjang sebahu yang keriting dan berantakan warna merah burgundy, giginya rata dan tampak bersih meski selama dirawat di rumah sakit jiwa ia jarang mandi. 

ZÉphirinemasuk ke rumah sakit jiwa dan ditempatkan di kamar khusus atas permintaan orangtuanya. Mereka tak ingin ada kolega yang tahu mengenai kondisi anak perempuan mereka; menderita sakit jiwa karena mencintai seorang penyair yang sudah memiliki istri dan anak.

ZÉphirine memiliki kebiasaan berdansa setiap pukul 12 malam. Lalu,pagi harinya ia mengamuk dengan memukuli dinding dan tempat tidur seraya berteriak-teriak. Si perawat laki-laki inilah yang kemudian menyuntikkan obat penenang kei lengan ZÉphirine supaya perempuan itu tertidur pulas. 

Suatu waktu, si perawat datang ke kamar membawa laptop dengan playlist yang telah disiapkan. Ia masuk ketika ZÉphirine sedang berdansa entah dengan siapa di dalam kepalanya. Setelah memutar musik, laki-laki itu meraih tangan ZÉphirine dan tubuh mereka berdua bergerak mengalir mengikuti alunan musik. 

Perubahan terjadi keesokan hari. Saat pagi ZÉphirine tak lagi mengamuk, dan mau disuapi sarapan sembarl memerhatikan paras si perawat laki-laki. Sejak saat itulah, sejak kebiasaan mendatangi kamar ZÉphirine pada waktu tengah malam untuk berdansa bersama,  si perawat merasa telah memiliki seeorang yang bisa ia rawat sepenuh hati. Bukan hanya karena ia dibayar untuk bekerja di tempat tersebut.

**
Tidak bisa dipungkiri, cerita bertema cinta akan selalu abadi.Sebut saja Romeo dan Juliet, Siti Nurbaya, Olenka (ketidakwarasan perilaku Fanton Drummond, kan, disebabkan karena kecintaannya pada Olenka?), dan banyak cerita pendek yang ada di id.klipingsastra.com—di antaranya cerpen Kunci-Kunci Alicia. Sehingga perihal cinta ini memiliki kemungkinan akan selalu diangkat sebagai tema besar cerita dari masa ke masa. 

Cerpen Joyeux Anniversaire mengangkat tema cinta dengan cara berbeda. Memanfaatkan tipikal karakteristik kota Paris yang selalu disebut-sebut sebagai kota cinta dalam salah satunya, penulis berhasil membangun suasana romantis dengan cara tidak biasa. 

Semenjak kedatangannya di rumah sakit jiwa, ZÉphirine kerap berdansa sendirian di dalam kamar tepat saat pukul 12 malam. Kemudian pagi harinya ia akan mengamuk sehingga butuh disuntik obat penenang. Elang tidak tahu apa yang dilakukan ZÉphirinesepanjang hari sampai tiba pukul 12 malam lagi saat ia kembali berdansa dengan dirinya sendiri.

Inilah yang terjadi dalam pikiran kurang waras ZÉphirine; ia menunggu lelaki yang dikasihinya di sebuah kamar hotel penthouse dengan pemandangan mengarah ke pusat kota Paris. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik; busana haute couture (hanya diproduksi satu saja sehingga tidak akan ada orang lain yang memiliki busana serupa), perawatan tubuh di salon, rambut yang ditata model braided updo, hingga Romanée-Conti red wine. Namun, yang terjadi kemudian, jam demi jam ia menunggu hingga tepat pukul 12 malam laki-laki itu tak datang. 

Jam dinding berdentang 12 kali. Jantungku sakit sekali.

Penggambaran emosi secara berlebihan seperti yang digunakan pada jamaknya tayangan sinema elektronik di televisi itu menjemukan. Bahwa mengungkapkan ekspresi sedih tak harus dengan menangis meraung-raung, marah tak harus dengan melotot atau menggebrak meja, geli tak harus dengan terbahak. Dalam cerpen ini penulis memiliki kelebihan dalam menggambarkan perasaan kecewa itu dengan cara ‘biasa’ (dalam artian tak menggebu-gebu). Kalimat-kalimat yang disusunnya dalam paragraf berhasil menghadirkan kegetiran kisah dengan baik. Hal tersebut dalam dilihat pada beberapa bagian yang dikutipkan berikut:

Aku masuk ke kamarnya saat ia sudah mulai berdansa. Aku meraih tangannya ia tidak mengelak. Ia tidak melihatku, ia tidak menyadari keberadaanku. Ia pasti sedang bendasa dengan lelaki yang ada di kepalanya. 

Tiba-tiba airmatanya mengalir di tengah lagu, tapi ia tetap berdansa. Pandangan matanya masih kosong. Ia menangis tanpa isak. Berdansa … dan terus berdansa. 

Saat makan itulah pertama kalinya ia menatapku. Ia memperhatikanku dari ujung kepala  sampai ujung kaki, menyusuri tubuhku pelan sekali, dengan matanya. Sambil terus menerima suapanku, ia mengunyah sambil melirik pelan ke arah wajahku. ZÉphirine sekali lagi melihat mataku. Meski tatapannya masi saja kosong, tapi ia sudah tahu aku ada. 

Sifat kontradiktif yang dihadirkan dalam jalinan cerita pun mampu digambarkan dengan apik. Menggunakan sudut pandang orang pertama yang bergantian antara dua karakternya, Tenni Wijaya membenturkan ‘kenyataan’ dalam kepala ZÉphirine dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi melalui penuturan Elang.. 

ZÉphirine:
Sepanjang hari ini aku menyiapkan semuanya. Aku telah memesan kamar hotel penthouse dengan pemandangan mengarah ke pusat kota Paris. Saat malam nanti, lampu-lampu kota akan tampak gemerlapan dari atas sini. 

Senja mulai mengintip malu-malu. Aku sudah memesan makan malam kepada petugas hotel. Mereka akan membawakannya ke kamar ini jika dia sudah datang. Lalu kami akan makan malam romantis dengan cahaya lilin, dengan jendela kamar terbuka. Agar hanya pemandangan Paris di malam hari saja yang terlihat. Agar kami berdua bisa makan sambil memandangi Eiffel. 

Elang:
Enam bulan terakhir, aku punya kebiasaan baru setiap kali datang: mengunjungi sebuah kamar khusus yang dihuni seorang pasien perempuan. Untuk sampai ke kamarnya, aku harus melewati kamar-kamar lain yang berisi orang sakit jiwa dengna berbagai alasan. 
Aku mengintipnya dari jendela yang dihiasi jerujibesi. 

Setelah membaca paragraf-paragraf tersebut bisa dimengerti dengan baik bahwa kota Paris dengan segala tetek bengek yang telah disiapkan ZÉphirine sesungguhya tak lebih dari sekadar kenangan atau permainan pikiran yang kurang waras. 

Kontradiksi lain yang berhasil dimaksimalkan penulis untuk menghadirkan pahit yang terlalu bisa diperiksa pada dua bagian akhir (ending):

Kini aku punya seseorang yang kurawat sepenuh hati, bukan hanya karena aku dibayar untuk bekerja di tempat ini. Meski mungkin aku hanya pengganti seorang lelaki di kepalanya, yang membuatnya tergila-gila sampai betulan gila. Tapi dengan begini saja sudah membuatku bahagia. 

Aku pun mencari tahu kapan ulang tahunnya. Di malam menjelang pergantian usianya, aku membawakan ZÉphirinesebuah gaun yang kubeli dari tabunganku selama bekerja di sini. Aku mengganti piyamanya dengan gaun itu, lalu menyisir rambutnya yang kusut. Sebelum kami berdansa, aku bisikkan sesuatu di telinganya.

“Joyeux Anniversaire, ZÉphirine.”

“Merci … Adi …”

Itulah saat pertama ku lihat ZÉphirine tersenyum. Manis sekali. Lalu ia memelukku erat, sambil menangis. Seperti bukan tangis duka, tapi haru. Mungkin kerinduannya sudah berakhir.
Tapi namaku Elang…

Sebagai cerita yang mengantarkan kisah manis namun dihadirkan secara muram, cerpen ini berhasil mengangkat perihal bahwa cinta salah satunya juga bicara mengenai kondisi saling membutuhkan, menerima tanpa syarat, namun tak pula luput memendam luka. ***


Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Joyeux Anniversaire" karya Tenni Purwanti (Sila Klik Link Terlampir)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang di surat kabar bersangkutan.