[Review Buku] Sketsa-Sketsa Umar Kayam - Mangan Ora Mangan Kumpul | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Sketsa-Sketsa Umar Kayam - Mangan Ora Mangan Kumpul Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:46 Rating: 4,5

[Review Buku] Sketsa-Sketsa Umar Kayam - Mangan Ora Mangan Kumpul

Karena mau dibatja sampai beberapa poeloeh kali poen tidak akan pernah bosan. Soenggoeh saia tiada berkata doesta.

Sketsa-sketsa Mangan Ora Mangan Kumpul ini pada mulanya tulisan esai yang dimuat dalam kolom ‘Gleyengan’ di surat kabar harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dari tahun 12 Mei 1987 – 30 Januari 1990. Lalu pada Oktober 1990 tulisan-tulisan ini mulai dikumpulkan dan dibukukan.

Hiduplah seorang priyayi (waktu itu seorang priyayi adalah juga seorang PNS) bernama Pak Ageng yang tinggal di sebuah komplek perumahan dosen UGM. Istri dan anak-anaknya tinggal di Jakarta, jadi selama di Yogyakarta, Pak Ageng ini ditemani oleh satu keluarga pembantu yang tinggal dan bekerja di sana. Pak Ageng menyebut keluarga kecil ini sebagai kitchen cabinet, yang terdiri dari Mister Rigen asal dari Pracimantoro, Gunung Kidul, sebagai direktur kitchen cabinet (Mister Rigen ini plesetan dari Mr. Reagan—Ronald Reagan presiden Amerika Serikat ke-40 ), Ms. Nansiyem (plesetan dari Nancy Reagan), anak pertama mister Rigen: Beni Prakosa, dan anak terakhir mereka yang masih bayi (aku lupa) tapi sering disebut Tholo-Tholo karena sebagai bayi matanya bulat tholo-tholo dan sering ngiler heweh heweh.

Buku "Mangan Ora Mangan Kumpul" ini berisi 127 sketsa dengan menggunakan latar belakang Jawa tepatnya Yogyakarta. Ada beberapa yang berlokasi di Jakarta—itu kalau Pak Ageng sedang pulang ke rumah di Jakarta atau sedang mengisi sebuah acara di kota tersebut. Tapi lokasi besarnya lebih sering di Jogja.

Buku "Sketsa-Sketsa Umar Kayam" ini lucu! Penuh falsafah Jawa. Dan cara penyampaian makanan yang luar biasa. Seperti penggambarannya mengenai: soto ayam daging kampung dengan kuah kuning yang mak nyus, gudeg penggeng eyem bagian tepong dengan siraman kuah yang gurih, sate usus yang di-ethet-ethet dari tusuknya, indomi rebus telus dan saus sambal saat dingin dan influensa menyerang, bakmi ongklok, tumis kangkung yang nyonyot dan berwarna hijau tua karena sering dihangatkan, dan lain sebagainya. Entah, ya. Waktu membaca bagian makanan yang disebutkan pak Ageng rasanya kok nikmat banget—pun bagian tumis kangkung nyonyot! Padahal disampaikan dengan cara biasa—kekuatan lebih yang dimiliki Umar Kayam di sini adalah pemilihan kata yang tepat, baik dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Selain anggota kitchen cabinet, juga terdapat dua orang profesor sahabat dekat Pak Ageng yang digambarkan saling ‘bertolak belakang’. Prof. Dr. Ir. Lemahamba, M. Sc, Med, Ms. dan Prof. Prasodjo Legawa. Prof. Lemahamba ini digambarkan ‘congkak’ dengan selalu bepergian ke luar negeri, baik untuk menghadiri diskusi internasional atau untuk berlibur. Sedang Prof. Legawa adalah seorang profesor matematika yang hidup di kaki gunung dengan istri dan sering pergi kemana-mana menggunakan honda bebek tahun 70 yang jelek yang susah distarter. Menarik dan menyenangkan ketika Umar Kayam menggambarkan betapa susahnya menghidupkan motor ini. Jeglek jeglek jeglek...Waktu itu belum ada starter listrik, jadi masih harus diengkol menggunakan kaki.

Begitupun, karena menggunakan falfasah hidup Jawa, karakter kedua profesor tersebut tentu tidak digambarkan secara hitam putih. Prof. Lemahamba yang congkak pun sebenarnya orang baik terhadap pak Ageng (memberikan t-shirt Polo setelah pulang dari Italia—kalau enggak salah ingat), dan prof. Legawa yang menyindir pak Ageng sebagai priyayi feodal didikan Belanda karena enak-enakan tidur siang saat hari Minggu. Begitu pula karakter Pak Ageng, meski mengakui dirinya feodal, tak jarang pula ia mengakui bahwa ia belajar banyak dari mister Rigen. Pun pembantu tersebut, meski orang kecil tidak segan-segan ia mengkritik ndara-nya.

Tulisan-tulisan di buku ini berbicara mengenai bermacam-macam hal, dengan cara Jawa. Menyindir halus, kadang nyelekit, namun tetap bisa bikin ketawa. Semisal pada kisah yang menceritakan mas Jayabaya, penjual penggeng eyem yang sering beredar di komplek. Mas Jayabaya meski hanya seorang penjual ayam bisa dengan bebas menyindir pak Ageng seorang priyayi yang pada bulan puasa memutuskan untuk tidak berpuasa hanya karena sedikit merasa tidak enak badan dengan membandingkan dengan keadaan dirinya—miskin, penjual penggeng eyem, panas, mau tidak mau setiap hari, meski bukan bulan puasa, harus berpuasa dan ber’puasa’ karena hidupnya yang susah.

Mengenai Umar Kayam, beliau dilahirkan pada 30 April 1932 di Ngawi, Jawa Timur. Meninggal dunia di Jakarta, 16 Maret 2002. Selain seorang sosiolog dan budayawan terkenal yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, Umar Kayam ternyata adalah pemeran Bung Karno dalam film Pemberontakan G30S PKI.

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Sketsa-Sketsa Umar Kayam - Mangan Ora Mangan Kumpul" karya Umar Kayam
[3] Ilustrasi pada artikel ini adalah gambar dari sampul buku yang bersangkutan.