[Review Cerpen] Perawat Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Perawat Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:25 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Perawat Kenangan

CERPEN Mashdar Zainal berjudul Perawat Kenangan yang dimuat koran Pikiran Rakyat Minggu, 25 Oktober 2015 tidak menawarkan kebaruan tema dan isi cerita sama sekali, kecuali kemasan. Seperti produk re-package, isi tetap sama namun ketika bungkusan dibuka, isinya tetap sama—bahkan parahnya tidak menawarkan nilai atau sudut pandang yang tegas; pada sisi manakah penulis berpihak: menyokong tokoh utama atau berseberangan sama sekali. 

Terlepas bagaimana kebenaran kisah mengenai tragedi PKI, baik dari sudut pandang negara yang akan digulingkan pun dari sudut ‘korban’ rakyat yang ditangkap dan juga dibunuh dengan tuduhan terlibat gerakan pemberontakan, ini laris diangkat sebagai tema cerita. Tak terlepas oleh cerpenis Mashdar Zainal. Sepertinya (mohon koreksi bila salah) ini cerpen kedua setelah sebelumnya menulis Kabut Ibu yang dimuat sebagai cerpen koran Kompas. 

Pembuka yang Piawai

Perhatikan bagaimana Mashdar Zainal membuka cerpen Perawat Kenangan ini dengan baik. 
Apakah kalian tahu, sebagian orang bertahan hidup karena mengenang sesuatu. Dan sebagian yang lain, bertahan hidup karena melupakan sesuatu. Itu hanya sebuah pilihan. Dan aku… aku memilih untukmasuk dalam hitungan orang yang pertama.
Meski belum menjelaskan apa konflik utama cerpen ini, penulis mampu memikat dengan kalimat yang disusunnya dengan begitu piawai. Terlebih, pembaca Indonesia masih mudah terbuai dengan kisah romantis atau yang berbau-bau romantis, terlebih lagi bila penulis menggunakan diksi ‘kenangan’. 

Cerita bergulir perlahan. Penulis masih menggunkan kekuatan kalimat yang indah untuk memikat pembaca. 
Kebahagiaan manusia adalah ketika ia dikenang. Namun, sejatinya, kita hidup tak cuma untuk dikenang, tapi juga mengenang.
Tersebutlah seorang perempuan tua yang hidup sendirian. Pekerjaannya sehari-hari tak lain dan tak bukan adalah perawat kenangan. 
Untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan sebuah ingatan yang mulai rentan termakan usia. Ia hidup dengan merawat sebuah ladang bernama ingatan--yang di dalamnya tumbuh beberapa kenangan yang ia tanam sewaktu muda. Ia bagai seorang petani yang terbungkuk-bungkuk di ladangnya sepanjang hari, merawat kenangan-kenangan yang masih tersisa--yang kini hampir mati oleh usia. Ia menyiraminya, memupuknya sedemikian rupa, dan memanennya sesekali untuk ia santap ketika ia disantap kesepian.
Kenangan yang bagaimana dan mengenai apa, hal tersebut rupanya tak ingin buru-buru dikuak oleh penulisnya. Ia masih berbetah-betah berkutat membicarakan perihal kenangan—bahkan sampai bagian berikutnya. Kenangan yang begini, kenangan yang akan begitu, kenangan yang sebaiknya begini, kenangan yang tak sebaiknya begitu. 

Penambahan informasi diberikan menjelang akhir bagian pertama, yaitu bagaimana si perempuan ‘bertahan hidup’ alias mendapat makanan, yakni atas kebaikhatian para tetangganya. Karena merasa kasihan, para tetangga tersebut kerap membawakan makanan. 

Simbolik dan Bertele-tele

Si perempuan tua mempunyai kebiasaan bercerita pada anak-anak yang berkumpul di rumahnya. Pada bagian kedua inilah kemudian si penulis mulai mengangkat tema utama cerpen Perawat Kenangan… dengan nanggun. 

Membaca bagian ini, seolah penulis tak berani memiliki sikap. Tak berani terang-terangan sedang membicarakan “hal” tertentu. Atau, bisa pula dicurigai bahwa sesungguhnya si penulis tak memiliki cara ungkap baru mengenai tema “seksis” yang sudah kadung diangkat oleh banyak penulis. 

Simbol jamak yang dipergunakan penulis adalah pada kata “merah”. Siapapun pasti mengerti bahwa warna merah kerap diasosiasikan dengan PKI. 
Perempuan itu duduk di atas balai-balai dan berkata, “Aku kujamu kalian dengan kenangan yang paling merah….
Juga mengenai aktifitas mereka pun, penulis tampak setengah-setengah dalam menyampaikannya. 
Perkumpulan muda-mudi yang menyebut dirinya sebagai manusia yang peduli pada sesama, pada kehidupan rakyat kecil. Kami turun ke jalan, membahas dan menelisik kebijakan pemerintah…
Sebenarnya pilihan ‘profesi’ perempuan dan laki-laki yang diangkat cerita ini sedikit kurang sinkron. Bagaimana tidak, seorang aktifis pembela rakyat kecil, bergabung dalam kelompok ‘merah’, turun ke jalan menelisik kebijakan pemerintah, mengalami kepahitan hidup seperti yang digambarkan dalam adegan berikut…
Aku dan kakek kalian hidup zaman pemberontakan, zaman huru-hara, di mana nyawa manusia tak lebih berharga dari seekor kecoak…
Namun menghabiskan waktu hanya dengan merawat kenangan? Bertahan hidup hanya dari belas kasihan para tetangga yang kerap mengirimi makanan? Semua gairah kemudaan di tokoh utama yang ‘sudi’ membela kaum lemah dan bahkan menyebut dirinya sebagai manusia yang peduli sesama seolah mental dan mentah. Seterpuruknya jiwa pemberontak, tak mungkin kemudian ia menjalani masa tua dengan hidup berkubang angan-angan. 

Sepertinya ini ‘jurang’ yang tak mampu dijembatani penulis. Kehidupan pribadinya yang lurus dan sama sekali tak berurusan dengan hal-hal ‘serong’ kecuali hanya membaca sumber literasi, menciptakan jarak atau plot-hole yang tak disadari oleh si penulis sendiri.

Perhatikan bagaimana bertele-telenya penulis menceritakan kegiatan semasa pasangan ‘merah’ tersebut menikah, hingga menciptakan ‘jurang’ atau plot-hole yang diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan si penulis mengenai permasalahan yang digarap.
Kami tak pernah lagi memedulikan apa yang dilakukan pemerintah karena ada yang lebih pantas untuk kami prioritaskan: kehidupan kami sendiri. Setelah menikah selama bertahun-tahun dan tidak dikaruniai seorang bocah pun, kami tetap hidup rukun dan saling mencintai.

Kami bercocok tanam dan memanen talas. Kami menggali sumur di belakang rumah dan memelihara itik. 

Ditangkap dan Tak Kembali

Konflik mulai dimunculkan pada bagian ini. 
ketika huru-hara dan kekacauan meledak, kami tak bisa lagi keluar rumah dengan rasa aman karena, di setiap tempat, senapan bisa saja terkokang dan meletus, badik bisa saja terayun dan terhunus.
Dan seperti memindah informasi, penulis menuliskan bahwa para tawanan akan dibawa ke gudang, jarang bisa kembali, dan akan disiksa apabila tak mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. 
Aku menjerit, menarik lengan kakek kalian, tapi pelipisku dihantam dengan gagang senapan hingga berdarah. 'Tunggu saja giliranmu,' kata salah seorang berseragam itu sambil menendang tubuhku. Dan begitulah...sejak diambil oleh orang-orang berseragam itu, kakek kalian tak pernah kembali.
Terlalu melankolia dan terlalu lemah untuk seorang mantan aktifis yang pernah memperjuangkan nilai kesetaraan dalam kemanusiaan terlihat pada bagian berikut:
Kakek kalian tak meninggalkan suatu apa pun, kecuali kenangan manis yang hanya sejenak…

Kemasan Manis

Penulis mencari aman, bisa dibilang begitu. Atau, yaaa… ia hanya ‘bercerita ulang’ barangkali, tanpa menawarkan hal yang sama sekali baru. Konflik utama berupa huru-hara hanya disinggung sekilas, bahkan tanpa ada keinginan untuk sedikit menyentil, mengenai apalah. Sebut saja, kekejian tindakan pemerintah, atau malah mendukung sama sekali dengan tindakan pemerintah (btw, hei, setiap penulis boleh memiliki nilai berbeda dengan nilai yang kebanyakan dianut oleh penulis/pembaca lain kebanyakan, bukan?). 

Kembali membahas mengenai perihal kenangan, cerpen ini seolah ingin membikin penghubung antara pembuka dan penutup cerita. 
Kenangan tentang seorang perempuan renta yang bertahan hidup karena mengenang sesuatu.
Seandainya dalam cerpen Perawat Kenangan ini penulis sudi dan mampu dan berani memberikan nilai dan sudut pandang lebih….

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Perawat Kenangan" karya Mashdar Zainal (Sila Klik Tautan!)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang di surat kabar bersangkutan.