[Review Buku] Perempuan Jogja | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Perempuan Jogja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:02 Rating: 4,5

[Review Buku] Perempuan Jogja

PEREMPUAN Jogja adalah judul buku yang ingin saya tulis sebagai bahan review pada jurnal kali ini. Ya, hari-hari belakangan saya berusaha ngubeg-ubeg lemari kecil berisi buku yang sudah terbeli namun belum sempat terbaca, satu diantara beberapa buku itu adalah Perempuan Jogja karya Achmad Munif.

Perempuan Jogja. Sebenarnya buku ini sudah terbit lama, dan dulu saat berkunjung ke rumah teman, sempat sekilas membacanya juga. Kali ini buku perempuan Jogja benar-benar menjadi milik saya setelah akhir bulan Februari 2012 lalu terbeli.

Ada kehendak membeli perempuan Jogja lantaran memang sudah sempat membaca, jadi sedikit tahu cerita didalamnya. Akan tetapi lain dari itu, ada yang membuat saya spontan mengambilnya dari rak toko buku, tak lain dan tak bukan adalah karena  gambar wanita cantik yang terpampang disampul buku tersebut mampu mempesonakan saya.

Dan begitu mulai membaca buku perempuan Jogja ini, baru sampai dihalaman awal saja -tepatnya pada halaman 4-, ada beberapa ungkapan yang sudah mampu membuat saya tersenyum.

Di bagian awal buku Perempuan Jogja menceritakan penokohan pemuda asal Kediri bernama Ramadan , kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama  di Yogyakarta  dan sekaligus berprofesi sebagai journalist di salah satu media masa lokal. Ramadan menempati lantai atas sebuah rumah kos bersama -Guntur- sesama Mahasiswa yang juga sekaligus bekerja di bengkel, dimana tempat kos tersebut berada disamping rumah -yang tergolong- mewah dan dihuni oleh seorang ibu muda beranak dua. Saat Ramadan memergoki ibu muda berada di samping kolam renang rumahnya sedang memetik bunga, maka aksi memotretpun diperankan oleh Ramadan, sang jurnalis.

Adegan itulah yang akhirnya menimbulkan argumentasi antara Ramadan dan Gilang dan membuat saya -sebagai pembaca- bisa tersenyum lantaran teringat ungkapan wong ndesa namun lumayan ngintelek.

“Mbak Rum adalah campuran antara karakteristik agraris dengan metropolis. Klasik tapi juga modern.“
“Kamu tahu enggak Tuhan begitu baik padaku..? Karena aku selalu melihat dengan seni. Aku tidak melihatnya dengan rasa birahi. Dalam benakku wajah Mbak Rum adalah gabungan antara Monalisa dan Ken Dedes, atau antara Celin Dion dengan Dewi Drupadi.” [Perempuan Jogja halaman 4]

Akhirnya mulailah mengalir cerita demi cerita. Bahwa ada beberapa penokohan kehidupan di Jogja dalam buku perempuan Jogja tersebut.

Pertama, sebut saja lika-liku hidup rumahtangga antara Rumanti yang berasal dari kalangan wong cilik  namun bersuamikan Raden Mas Danudirja yang berasal dari kalangan darah biru alias ningrat, dimana akhirnya Rumanti di-wayuh alias dimadu, lantaran RM Danudirja kembali menikah dengan bekas pacar yang justru pernah menyakiti hatinya. Istri kedua Danu tersebut sempat meninggalkannya untuk kawin dengan orang lain, walau pada akhirnya cerai juga.

Cerita keluarga kecil antara Rumanti dengan RM Danudirja yang beranak dua ini menghiasi buku dari awal hingga jelang akhir halaman. Sisi-sisi keseharian kaum urban dan kesadaran sebagai wong cilik yang -merasa- diangkat derajatnya tergambar dari penokohan Rumanti. Sementara sisi-sisi kaum priyayi atau kaum ningrat dilukiskan dalam penokohan Danudirja.

Di posisi ini, Rumanti adalah gambaran perempuan Jogja yang berasal dari kaum jelata, hanya saja terlepas bersuamikan seorang ningrat ataupun bukan, penokohan Rumanti mencerminkan sebagai seorang isteri yang taat, patuh, serta setia pada suami. Bagaimanapun keadaan dan sakitnya Rumanti, dia juga harus menjaga image kewanitaan utamanya dalam kaitannya sebagai peran seorang Ibu, yaitu tetap memberikan perhatian dan kasih sayang pada anaknya meskipun sejatinya dia sendiri menderita.

Nama Ramadan yang terbaca sebagai tokoh utama dalam buku ‘perempuan Jogja’ itu juga mampu membuat saya menjadi memiliki  banyak imajinasi. Membayangkan sesuai alur cerita lalu membandingkannya dengan kenyataan yang dialami pada diri sendiri. Bahwa sebagai kaum urban yang tak cukup harta -warisan orang tua- ini ada banyak hal yang butuh dikorbankan pun di perjuangkan. Dari sisi waktu sudah barang tentu butuh banyak pengorbanan untuk memanfaatkannya guna bekerja mencari tambahan uang demi meraih masa depan lebih baik, sementara dari derajat ketidakpunyaan itu ada hal yang butuh keberanian untuk diperjuangkan, termasuk perjuangan meraih cinta.

Dalam persahabatan dan cinta, dua tangan terangkat berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tidak dapat dicapai sendirian. [Surat Kahlil Gibran kepada Mary Haskell – Perempuan Jogja halaman 18]

Pada halaman 31 mulai ditampilkan juga perjalanan Popi, anak gadis umur 15 tahun yang kebenarannya dia sudah tak bisa lagi dikatakan sebagai gadis lantaran kehidupan menuntut dirinya untuk melepaskan kegadisannya tersebut. Popi adalah gambaran anak remaja yang terlahir dari keluarga tak harmonis. Sebenarnya ayah Popi adalah lelaki hebat, pekerja keras, namun juga sekaligus pekerja kasar. Ayah Popi berasal dari desa dimana simbah Popi yang melahirkan ayahnya adalah keluarga baik-baik dan bersahaja. Namun karena ingin mengadu nasib lebih baik, maka pergilah ayah Popi ke kota. Kenyataan yang tak sesuai harapan dihadapkan pada  lelaki kecil kerempeng itu. Akhirnya penghasilan pas-pasan itu tak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari padahal Ibu Popi menginginkan lebih dari yang didapatkan ayahnya. Dari sifat dan keinginan Ibu Popi inilah semua berawal, hingga akhirnya banyak mempengaruhi kehidupan Popi juga.

Beruntung sebelum pada akhirnya semua terlanjur, Popi menemukan orang berharta yang peduli padanya. Namun pengalaman Popi hidup di jalanan sampai dengan keakrabannya pada rakyat terbawah yang hidup di bantaran Kali Code inilah yang -saya rasa- mampu membuka wawasan para pembaca ‘perempuan Jogja‘ dalam melihat kehidupan nyata dan realita diseputaran kita ini. Bahwa masih banyak wanita di seputaran kita ini yang menjadi objek pelecehan seksual, akan tetapi jika diberikan kesempatan toh ada satu bentuk kesadaran demi memutuskan kehidupan yang lebih baik.

Di sisi lain, kehadiran tokoh remaja putri bernama Raden Ayu Indri Astuti yang kuliah di Sastra Prancis Universitas ternama Jogja, dan sekaligus adik kandung Raden Mas Danudirja memberikan inspirasi kepada para pembaca  tentang gambaran wanita maju dan modern, wanita yang tetap memandang penting suatu pendidikan. Inilah hal yang juga sangat memberi warna pada keseluruhan isi buku perempuan Jogja ini.

Digambarkan bahwa Indri Astuti adalah sosok perempuan berdarah biru dimana orangtuanyapun memiliki cukup harta, namun Indri tak pernah mengagung-agungkan kekayaan orangtuanya tersebut. Bahkan dalam memilih lelaki -calon- pendamping hidupnya Indri tak pernah menjadikan harta sebagai ukuran. Sebaliknya, Indri justru memiliki sikap pendobrak yang sudah semestinya ada pada generasi sekarang ini. Bahwa perempuan tak harus selalu nurut terhadap ketidak-adilan yang diperlakukan oleh laki-laki, bahwa sebagai seorang wanita jangan pernah hanya diam saja ketika harus dihadapkan pada tindakan semena-mena dari seorang pria. Di lain sisi, justru perempuan sebagai seorang istri  bisa memposisikan diri dijadikan rekan diskusi pun lawan argumentasi bagi sang suami, tentu demi mendapatkan satu solusi. Ini adalah era emansipasi, dimana hak perempuan itu tak sebatas di sumur di kasur dan di dapur.

Penyajian buku perempuan Jogja yang berisi lebih dari 295 halaman ini secara umum saya nilai lumayan bagus. Ada banyak sisi-sisi kehidupan nyata di depan mata mampu direpresentasikan dalam cerita buku berjudul perempuan Jogja ini. Dan tak sedikit liku-liku cinta anak manusia terkupas juga, baik cinta sesama anak manusia pun cinta antara pria dan wanita.

Ada dua poin pada cerita cinta antara pria dan wanita. Pertama cerita tentang perjalanan rumah tangga Raden Mas Danudirja yang seorang ningrat dengan istrinya -Rumanti- yang hanya orang kampung dan tak punya. Ada pembelajaran bahwa hidup berumahtangga itu selain pemenuhan kebutuhan sehari-hari, ternyata tak melulu hanya didasari dengan sebatas rasa cinta saja. Lain dari itu adalah kesaling-mengertian antara suami dan istri. Ada yang harus menang saat salah satu harus mengalah, begitu pula sebaliknya, ada yang harus mengalah ketika salah satunya terlanjur memposisikan diri sebagai pemenang. Disini sebagai kesimpulan bukan pada masalah menang-menangan pun kalah-kalahan, akan tetapi lebih pada  “sisi kesaling-mengertian”, ada kehendak bisa memahami pasangan.

Poin kedua, kehidupan cinta antara pria dan wanita pada buku perempuan Jogja ini terwakilkan  pada kisah remaja bernama Ramadan yang hanyalah anak janda tak berharta, dimana Ramadan berkehendak mencintai seorang perempuan namun yang ditemui adalah perempuan berkasta lebih tinggi darinya. Ramadan selalu terngiang pesan-pesan simboknya a.k.a ibunya, “bahwa dalam hidup ini kamu harus tahu diri Lee, ngilo githoke dhewe. Aja kaya cebol nggayuh rembulan alias Jangan seperti pungguk merindukan bulan.“

Cebol dan bulan, kasta Sudra dan Brahmana, itulah yang selalu terpikirkan oleh Ramadan demi meraih cintanya.

Tentang dunia journalistik yang dijalani Ramadan, ada juga sedikit sisi kehidupan pada dunia journalistik yang oleh -sang penulis- Achmad Munif juga mampu dijadikan cerita pemanis di buku Perempuan Jogja ini.

Akan tetapi bukan berarti tanpa cacat cela kalau diatas saya telah banyak memujinya, lantaran ada sedikit kejanggalan yang bisa disaksikan pada buku  ini. Dalam keasyikan berimajinasi membaca buku Perempuan Jogja ada satu hal yang sempat membuat saya mengernyitkan alis mata karena dibenak ini ada sederet kalimat tanya, tepatnya di halaman 145;

Rencana semula, ia ingin menonton sendirian tanpa ditemani Gilang yang pulang ke desanya di Banjarnegara, perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat, ataupun ditemani Tyas.

Lihat bagian yang tercetak tebal pada quotation diatas..! Benarkah Banjarnegara itu perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat…? Pasalnya, sependek pengetahuan saya, Banjarnegara itu terletak di kaki  Dieng berbatasan langsung dengan Kebumen serta berdampingan dengan Wonosobo.  Apakah maksudnya adalah Banjar yang masuk wilayah Jawa Barat namun letaknya berbatasan langsung dengan Cilacap -bagian dari- Jawa Tengah itu…? [uth]

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disalin dari blog.ikanmasteri.com. Atas izin sang empunya ulasan, para pembaca tetap dimerdekakan untuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum membaca ulasan ini akan lebih baik untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Perempuan Jogja" karya Achmad Munif.
[3] Gambar diambil dari situs blog.ikanmasteri.com --sebagaimana gambar sampul buku.