[Review Cerpen] Kuntau | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Kuntau Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:46 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Kuntau

Twist ending yang nendang adalah jawaban pertanyaan: apa kelebihan KUNTAU cerpen koran karya Benny Arnas yang diterbitkan koran Jawa Pos Minggu, 25 Oktober 2015. Cerpenis Benny Arnas dikenal selalu mengangkat tema lokalitas di dalam cerpen-cerpennya--selengkapnya sila simak karya-karya cerpen Benny Arnas ini. Dalam cerpen KUNTAU yang mengangkat kesenian bela diri tradisional Lubuk Linggau, Benny mampu memberikan informasi di dalam cerita secara tepat dan berimbang. Konflik yang digarap, informasi mengenai seni bela diri KUNTAU yang tidak sekadar tempelan, dan ending yang mengejutkan. 

Konflik yang Digarap

Cerpen KUNTAU dibuka dengan memunculkan konflik (yang pembaca akan kira sebagai ) permasalahan utama. Yakni, persaingan sengit di antara beberapa perguruan kuntau yang ada di Lubuk Linggau. Tersebutlah beberapa perguruan Kuntau yang memiliki kegiatan tahunan yang akan menghadirkan pertandingan antara pendekar-pendekar unggulan di masing-masing perguruan KUNTAU. 
Semua bermula ketik tersiar selentingan Tuan Amir Dinajad, guru besar Perguruan Kuntau Harimau Kumbang di Muara Kelingi mengatakan kalau pertandingan akbar kuntau yang akan digelar di sekayu, akan mereka menangi.
Permasalahan muncul ketika ada salah satu perguruan yang sesumbar dan membikin sakit hati dan panas telinga. Hal inilah kemudian yang menjadikan para pendekar dari dua wilayah yakni para pendekar dari Lereng Bukit Sulap di Lubuklingau dan para pendekar lereng Bukit Siguntang di Palembang bersatu. Tujuan mereka adalah satu yaitu memenangkan perhelatan  demi menyumpal mulut sesumbar Amar Dinejad.  
Para pendekar asal kedua negeri yang terkenal pongah itu pun akhirnya harus dikandangkan di Lereng Bukit Sulap. Ya, para guru besar dari Perguruan Sultan Berani, Musi mengamuk, dan Cakar Macam dari Palembang dan perguruan Harimau-Harimau dan Harimau Maung dari Lubuklinggau bersepakat utuk menyumpal mulut besar Amir Dinajad.
Konflik utama di dalam cerpen ini sebenarnya ‘tidak hanya’ mengenai pertandingan kuntau antar perguruan. Permasalahan utama di dalam cerpen koran Benny Arnas ini lebih pada konflik antara… mengenai… ah, sebaiknya Sobat Kliping Sastra membaca terlebih dulu mengenai cerpen Kuntau. Apabila tidak, maka twist ending pun kejutan yang ada di akhir cerita akan menjadi tidak kembali asyik. 
Di sinilah letak kepiawaian Benny Arnas dalam menyusun cerita. Bagaimana ia membungkus permasalahan utama dan menutupnya menggunakan permasalahan yang lain. 

Saat ‘pancingan’ konflik yang mewujud sebagai twist ending tersebut, Benny Arnas mewujudkannya menjadi sebuah hal yang biasa saja. Yakni, permasalahan antara pelatih dan murid. Pembaca akan menengarainya sebagai permasalahan biasa yang akan menyusun konflik utama cerpen ini, yaitu pertandingan kuntau. 

Kuntau Bukan Tempelan

Di dalam cerpen koran-cerpen koran, jamak kita temui tema yang selain mengangkat konflik perasaan (contoh: peristiwa 1965) cenderung hanya menjadi tempelan. Tetapi di dalam cerpen KUNTAU ini, Benny Arnas tak sekadar menjadikan olahraga bela diri khas ini hanya menjadi sekadar tempelan. 
Mengambil setting waktu pada tahun 1939 saat penjajahan kompeni, sebagai penulis dengan baik ia memasukkan permasalahan yang mendera dua perguruan kuntau beserta latar belakangnya. Ia juga memasukkan falsafah kuntau untuk menjelaskan bagaimana seharusnya para pendekar itu bertindak. 
“Kalian harus memahami apa hakikat kuntau yang sebenarnya,” ujarnya membuka latihan di hari pertama pertemuan para pendekar di Lereng Bukit Sulap.
Apabila dikerjakan oleh penulis lain, bisa jadi kuntau hanyalah dijadikan tunggangan pengantar berjalannya cerita tanpa diulik lebih lanjut. Namun, di tangan Benny ia berhasil menjelaskan dan mencampurkannya dengan baik ke dalam cerita. Tidak sekadar memindah informasi ‘mentah’ ke dalam cerpennya, namun sudah diolah dengan baik.
“Kuntau bukan sekadar beladiri kebanggaan Sumatera sebagaimana silat. Kuda-kuda kuntau tak pernah menunjukkan nafsu menyerang, tapi menyerap kekuatan lawan untuk kemudian menyaksikan bagaimana lawanmu akan jatuh terhuyung oleh keberingasannya. Kuntau bukan tentang mengalahkan, tapi memenangkan pertarungan di dalam diri sendiri. Bagaimana kalian akan mengalahkan lawan kalau melawan sosok yang paling kalian kenal saja kalian tak mampu. Tahu kalian siapa yang paling kalian kenal? Diri kalian sendiri.

Twist Ending

Twist ending yang baik akan berhasil mengecoh pembaca. Atau, bisa dikatakan pula akan memberikan pembaca kejutan. 

Di dalam cerpen ini, cerita mengenai pertandingan Kuntau disampaikan dengan lurus dan lancar. Untuk menuntun pada twist ending biasanya penulis memiliki kecenderungan memberikan pancingan-pancingan yang disebar pada keseluruhan cerita. Namun, Benny Arnas tidak.

Cara menyamarkan twist ending ini adalah dengan menyebar begitu ‘banyak’ permasalahan; permasalahan besar dan yang kecil-kecil. Sehingga, pikiran pembaca akan digiring untuk menebak-nebak bagaimana penyelesaian permasalah besar saja.

Dua perguruan kuntau bersatu karena ingin memadamkan sesumbar salah satu perguruan yang berkata bahwa pertandingan kali ini ia yang akan menang. Kemudian para pendekar dua perguruan itu bersatu, berlatih tekun, dan menghadapi pertandingan dengan hasil yang harap-harap cemas. Formula ini sering kita temukan dalam film-film Hollywood mengenai pertandingan olahraga maupun atlet. Penonton film yang mengikuti proses latihan mati-matian tentu akan penasaran bagaimana usaha dan hasil kelompok atau atlet olahraga tersebut menghadapi pertandingan dan mendapatkan hasil.

Tahun 1939 saat penjajahan kompeni dan sebentar lagi hari raya Idul Adha. Usaha menekan emosi dan menahan diri supaya tak marah sehingga menimbulkan kekacauan, berkali-kali diingatkan supaya tak terjadi hal tersebut. Selain tak ingin menodai kesucian hari raya Idul Adha, juga tak menarik perhatian para penjajah kompeni. 
"Dan, kita pernah mengalaminya. Ketika Tanjung Bara tewas di tangan Amir Dinajad! Kalian tahu, kami semua mati-amatian menahan amarah demi menghormati pertandingan. Pertandingan nahas itu berlangsung di bulan Syawal, sepekan bakda Idul fitri, sepekan bakda kami berjabat tangan dan berangkulan hangat.
Konflik antara pelatih dan yang dilatih. Ada ‘pertentangan batin’ di dalam hati Tanjung Hitam.
"Tapi Tanjung...," Tuan Guru Muhammad Amja menggantungkan kalimatnya di tengah-tengah perbincangan mereka tentang urutan nama petarung, “dalam tiga pekan ini aku melihat kau begitu bersemangat melatih pendekar dari Palembang itu.”
“Abdullah Kasip?”
Tuan Guru mengangguk. “Dia mirip almarhum ayahmu, kan?”
Tanjung Hitam mendongak.
Selimur atau usaha menutupi permasalahan utama berhasil dilakukan. Pada poin bagian manakah twist ending itu dimunculkan tentu tak akan ditulis di sini. Karena berpotensi mengurangi kenikmatan dan keasyikan bercerita. 

Secara keseluruhan, cerpen KUNTAU oleh Benny Arnas cerpen koran Jawa Pos Minggu 25 Oktober 2015 ini worth to read!
Suara Tuan Guru Muhammad Amja terdengar menggelegar, "Semua pendekar dari Palembang lekas ke stasiun dan semua pendekar dari Lubuklinggau kusilakan mengantar dengan kuda, kecuali Tanjung Hitam!"
***
TUAN Guru Muhammad Amja membuat Tanjung Hitam berlutut dan menangis sejadi-jadinya.


Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "KUNTAU" karya Benny Arnas (Sila Klik Tautan!)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.