[Review Cerpen] Petrus | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Petrus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:44 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Petrus

DENGAN terseret-seret, Petrus berjalan menyusur pantai seorang diri. Seretan kakinya meninggalkan bekas panjang di atas pasir. Tak terasa, dia telah berjalan jauh. Sebentar-sebentar dia berhenti, menatap ombak yang tinggi dan langit bergantian. Sesekali dia mendesah, tersenyum bahkan kadang berdecak kagum. Sampai di sebuah cadas yang tinggi, dia berhenti, menatap sejenak dan dengan beralaskan sepatu kulit kuna dia menaiki cadas itu. Dia duduk di atas cadas.

Petrus melamun, mengagumi alam dan kebesaran-Nya. Matanya nanar menatap kejauhan. Pantai tetap membisu, terasa angin sepoi menggigit tubuhnya. ”Mengagumkan,“ desahnya.

Lamunannya makin melambung tanpa sadar kekaguman telah mengusik emosinya. Tak dapat dibendung, air bergulir dari sudut matanya. ”Mengapa aku begitu cengeng?“ desahnya kesal. Dengan lembut dihapusnya air yang bergulir di pipi. Tiba-tiba wajah Petrus menegang. Air itu justru semakin deras mengalir dari sudut matanya. Tiba-tiba terdengar ayam jantan berkokok tiga kali. “Hukum telah menimpaku, ayam jantan itulah buktinya.“

Petrus teringat peristiwa kemarin.

”Petrus, kau tidak ke gereja?“ tanya ibunya.

"Tidak, untuk apa? Menerima abu? Mengapa meski di gereja?“

”Petrus, ingat kita umat Allah. Sekarang hari Rabu Abu. Pergilah ke gereja!“

”Persetan dengan Rabu Abu! Aku mau pergi!“

”Petrus! Kau telah memungkiri keyakinanmu,“ teriak ibu.

Petrus tidak menggubris. Bergegas dia berjalan keluar.

”Petrus, tunggu! Mau kemana kau?“

”Apa urusan Ibu?“

”Petrus, engkau anakku satu-satunya, jangan kecewakan ayah dan ibumu.“

”Persetan, lepaskan tanganku. Aku akan mengunjungi Miriam.“

”Berhenti kataku! Dengar, jangan kau sebut-sebut nama Miriam di rumah ini. Putuskan hubunganmu dengan pelacur itu!“

”Ha...ha...ayah pikir, siapa wanita yang sekarang duduk di samping ayah?“

”Petrus, tutup mulutmu yang lancang!“ bentak ayahnya.

”Ha...ha... ayah pikir dia wanita suci? Maria Magdalena, wanita yang ditolong  pelacur kelas tinggi. Tak heran jika mempunyai pavilion. Saat itu cuaca sangat dingin mencekam. Petrus asyik bercanda dengan Miriam. Petrus lupa kejadian di rumah, Petrus lupa peringatan ayahnya. Udara dingin makin menggigit. Petrus pun makin asyik. Petrus telah lupa pada masa lalunya.

Dulu, Petrus adalah sosok yang tegar, berkepribadian dan bijaksana. Di kalangan teman sebayanya dia sangat dihormati. Tetapi sosok itu tiba-tiba berubah. Petrus telah menjadi pembangkang dan pengacau. Perubahan itu tidak hanya diamati oleh ayah dan ibunya. Orang-orang di sekitar pun mengamati.

Terdengar desas-desus, Petrus berubah sejak berteman Miriam. Ayahnya pun tidak tinggal diam. Kemana pun Petrus pergi, ayahnya mengikuti. Akhirnya ayah mengetahui, Petrus memang berteman akrab dengan ayah ketika sedang dilempari batu.“

”Petrus! Lancang benar mulutmu. Ingat kau telah menyakiti ibumu dan aku. Kau akan hancur jika menghina Kami sekali lagi. Kokok ayam jantan akan mengingatkan perbuatanmu.“

”Ha...ha...“ Petrus berlalu dengan acuh.

Cepat-cepat Maria menarik tangan suaminya, memperingatkan dan memandanginya sayu.

“Jangan kau lakukan itu Kanda.“

”Tenang Dinda, kemarahanku sudah memuncak, pernyataanku tidak dapat dicabut. Anak itu sudah keterlaluan. Aku harus menghukumnya.”

“Kanda, mengapa kau larang dia menjalin kasih dengan Miriam?“

”Dinda... tak tahukah kau, Miriam pemuja Lucifer.“

”Darimana kau mengetahui hal ini, Kanda?“

”Dinda aku pernah datang ke rumah dan mengancamnya. Jika dia tidak meninggalkan Lucifer, dia harus meninggalkan Petrus.”

“Lalu, apa katanya?”

”Dia menolak, bahkan menertawakanku. Dia bahkan akan merayu Petrus untuk memuja Lucifer.“

”Oh... Kanda, bagaimana kita mempertanggungjawabkan hal ini pada Tuhan?”

“Tenanglah Dinda, Tuhan Maha Tahu.“

***
SEMENTARA itu, Petrus telah sampai di pavilion Miriam. Miriam memang seorang pelacur. Untuk membuktikan desas-desus penduduk sekitar, ayah Petrus mendatangi rumah Miriam.

Ayah Petrus mengetuk pintu rumah Miriam. Tak berapa lama pintu terbuka. Tanpa permisi, ayah Petrus masuk ke dalam rumah tersebut. Pandangannya terpaku pada tempat pemujaan di tengah ruangan.

***
”KANDA Petrus, mari kita kelilingi tempat itu.”

”Ah Dinda, mengapa kau rusak keasyikan kita?“

”Ayolah Kanda, ingatlah janjimu. Kau akan memenuhinya hari ini, ’kan?

”Tapi Dinda, nanti kan bisa.“

”Tidak! Ingat, jika kau ingkar janji, aku tidak tahu bagaimana nasibmu kelak.“

”Baiklah kutepati janjiku.“

Petrus terperanjat, cadas yang didudukinya makin goyah. Petrus sadar, air yang bergulir dari sudut matanya ternyata darah. Dan darah itu mampu mengikis cadas yang didudukinya. Makin lama cadas itu berlubang. Sedikit demi sedikit cadas itu hancur dan longsor. Petrus kehilangan keseimbangan. Dalam kekalutan dia berteriak ”Tuhan aku berjanji tidak akan mengingkari lagi, ampunilah aku.“

Terlihat oleh Petrus, ayah dan ibunya berdiri di atas air melambaikan tangan ke arahnya.

Laut kembali sepi, cadas itu pun tampak masih kokoh di sana. ***



SOROTAN CERPEN

Cerita pendek berjudul Petrus ini ditulis dalam konteks aktualisasi menyambut perayaan Paskah. Oleh karena itu, dalam cerita pendek ini diketemukan istilah Rabu Abu, yang oleh penyair T.S. Eliot disebut dalam judul sajaknya, Ash Wednesday, salah satu bagian dari upacara Paskah itu. Ciri lain lagi, adanya sebutan ayam berkokok, yang dalam kisah penyaliban Yesus menjadi penanda penyangkalan Petrus terhadap janji setianya sendiri. Namun yang menarik, semua sebutan itu tidak berhenti di sana, tetapi menjadi pancatan untuk masuk ke dalam penghayatan kehidupan umum sekarang ini.

Suasana cerita pendek ini kontemplasi yang mengajak pembaca merenungkan makna pertobatan dalam konteks Paskah itu. Namun karena penulis ini belum cukup berpengalaman, maka renungannya nampak kurang tuntas. Akibatnya, hidup nampak bagaikan gambaran hitam-putih dan sederhana. Jelasnya, cerita pendek ini menganggap tidak layak hubungan Petrus dan Miriam. Dalam hidup, hubungan semacam itu bisa jadi memancarkan cahaya religiusitas.

Apa pun yang disajikan Agnes Wijayanti dalam cerita pendek ini bersifat alegorik. Sayangnya, bagi pembaca yang kurang faham latar belakang sebutan-sebutan: Petrus, Miriam, Maria Magdalena, dan sebagainya itu, menjadi kendala dalam mencerna karya ini. Yang dibutuhkan bukan catatan kaki, tetapi pengolahan agar simbol-simbol alegorik itu bisa lebih dimengerti secara umum bagi pembaca yang berada dalam masyarakat majemuk. Agnes memerlukan bahan bacaan lebih luas, bukan hanya wacana atau discourse yang ditulis dalam buku-buku, tetapi juga wacana kehidupan nyata. (bakdi) 


Catatan:
[1] Artikel di atas  adalah cerpen berjudul "Petrus" hasil karya Agnes Wijayanti
[2] Artikel bagian bawah adalah sorotan cerpen yang ditulis oleh Bakdi Soemanto
[3] Pernah tersiar di surat kabar "Berita Nasional" (Koran Bernas) pada 24 Februari 1991