[Review Cerpen] Presiden Jebule | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Presiden Jebule Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:08 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Presiden Jebule

Membaca karya Budi Darma berjudul Presiden Jebule ini, sepertinya tak akan kaget bagi sobat klipingsastra yang pernah menyimak Olenka, Rafilus, dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington, serta beberapa cerpen lainnya. Karena sama-sama menawarkan keganjilan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh penulisnya. 

Tokoh Olenka memiliki keganjilan yang khas yang menjadikan buku ini digandrungi banyak pembaca. Belum lagi orang-orang Bloomington yang tokoh-tokohnya bak orang terasing, tak mudah bersosialisasi dan memiliki perilaku ganjil. Pun, Rafilus yang menggunakan setting lokasi di Surabaya ini masih menawarkan hal sama.

Formula tersebut digunakan kembali oleh Budi Darma dalam cerpen Presiden Jebule, satu cerpen koran yang kemarin dimuat di rubrik cerpen koran Kompas Minggu, 5 Juni 2016. Pada permulaan cerita, rumusan ganjil yang digunakan sangat pas dan masih enak untuk dinikmati. Membikin tergelak-gelak, setidaknya sedikit menarik bibir ke arah yang berlawanan lah, ya.

Jebule adalah nama sebuah tokoh. Ia lahir dalam keadaan tidak normal. Lehernya miring. 

Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring.

Seorang dukun bayi yang buta huruf memastikan bahwa ia menjadikan leher Jebule menjadi lurus kembali. 

Demikianlah, setiap hari dukun bayi buta huruf ini datang ke gubuk ibu Jebule, memijat-mijat Jebule, menelusuri syaraf, otot, dan jalan darah Jebule, untuk mencari rahasia bagaimana cara membetulkan lehernya. Dia juga memijat-mijat tubuh ibu Jebule, terutama pinggulnya.
Akhirnya, dengan pertolongan Tuhan Seru Sekalian Alam, leher Jebule bisa dijadikan tidak miring.

Cerita kemudian bergulir mengenai perjuangan seorang Jebule. Tumbuh dalam kondisi lingkungan yang miskin tak membuat Jebule menjadi seseorang yang bodoh. Justru sebaliknya, ia menjadi seorang pengamat yang teliti. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan Jebule menebak bahwa seorang pesulap tidaklah ajaib seperti tampaknya. Namun hanyalah memiliki sebuah kemampuan menggerakkan tangan dengan cepat dan tangkas. 

Jebule tumbuh menjadi seorang pencopet—demi mempertahankan hidup. Ia tumbuh menjadi seseorang yang cerdas, pintar, cerdik, sekaligus tangguh—dalam artian secara fisik ia benar-benar tahan banting. 

Jebule diterima dalam kesatuan tentara. Di sana ia membaca dengan tekun yang berlebihan, dalam artian baik. Ia mempelajari biografi-biografi orang hebat dan terkenal. 

Berpijak dari bagian ini, cerpen Presiden Jebule oleh Budi Darma ini mulai bergulir ke arah yang membosankan. Kita sebagai pembaca bisa menebak ke arah mana dan siapa yang sedang dibicarakan dalam cerpen ini. 

Presiden Jebule adalah sosok-sosok diktator semacam Soeharto, yang memiliki kebijakan yang sungguh sewenang-wenang. Juga kebijakan Kim Jong Un yang tak kalah ’absurd’nya dalam memberlakukan sebuah peraturan. 

Dengan kepandaiannya bermain kata, menipu, berbohong, dan menjerumuskan musuh-musuhnya, akhirnya dia menjadi presiden. Bukan hanya sekadar menyiksa, membunuh pun bagi Jebule, adalah halal.
Jebule tahu, supaya semua orang tunduk, sebuah peraturan, yang tampaknya sederhana, harus dilaksanakan: potongan rambut dia harus ditiru oleh semua laki-laki, demikian juga cara berpakaiannya. Untuk menguji kesetiaan seluruh penduduk, dia pernah gundul, pernah cukur rambut pendek, pernah juga agak gondrong. Semua laki-laki mulai umur lima tahun sampai menjelang mati, harus ikut gaya rambutnya.

Hingga kemudian cerita beranjak ke arah yang pernah kita duga. Bagaimana rakyat berusaha memberontak dan menurunkn Presiden Jebule. Juga Presiden Jebule yang kemudian membacakan surat pengunduran diri, dan bagaimana tindakan tanggapan wakil yang hendak menggantikan menjadi presiden. 

Dari sini, bila kita rajin mengikuti tulisan-tulisan Budi Darma tentu tak akan menemukan kebaruan dalam cerpen Presiden Jebule. Malah, cerpen-cerpen terdahulunya seperti Laki-laki Pemanggul Goni, dan Pohon Jejawi malah menawarkan cerita ganjil yang jauh lebih baik dan dapat dinikmati. 

Tentu bukan salah penulis yang menggunakan rumus berulang dalam tulisannya. Pun, cerpen Presiden Jebule ini masih cukup enak dinikmati. Dibaca pun masih bisa dikatakan kita sebagai pembaca tak sedang membuang waktu percuma. Hanya saja, bagaimana sebuah tulisan yang begitu-begitu saja mampu berkembang dan dapat dinikmati kembali secara segar oleh pembaca-pembaca setia Budi Darma, memang membutuhkan usaha dan energi lebih. Juga, bagaimana sebuah tema tentang Soeharto yang beritanya mudah kita akses dalam berbagai versi (versi sebenarnya dan versi bikinan antek-antek Orde Baru) mampu disajikan ulang dengan segar. 

Seperti masakan, kita pembaca menikmatinya sebagai sebuah sajian baru, bukan sajian dengan tampilan berbeda namun sebenarnya itu hanyalah hal yang dipanaskan --agar tak basi. Nget-ngetan kalau orang Jogja bilang, atau blendrang alias sayur yang sudah dihangatkan berkali-kali kalau orang Jawa Timur berujar. 

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "PRESIDEN JEBULE" karya Budi Darma (Sila Klik Tautan!)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.