[Review Cerpen] Gegasi dalam Cerita Kakek | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Cerpen] Gegasi dalam Cerita Kakek Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:09 Rating: 4,5

[Review Cerpen] Gegasi dalam Cerita Kakek

CERPEN mengenai Gegasi yang dimuat koran Kompas edisi Minggu, 19 Maret 2017 mengandalkan plot twist pada bagian ending. Pilihan yang tepat, hanya saja bila cerpen utuh ini diandaikan sebagai sebuah bangunan, pilihan itu kurang kuat/kokoh.

Di dalam KBBI, tersebutlah Gergasi (bukan Gegasi), yakni raksasa yang besar, suka makan orang. Di dalam sebuah dongeng kancil, Gergasi disebut sebagai sejenis raksasa pemakan hewan dan buah-buahan hutan. Sementara itu, di dalam cerpen Kompas ”Gegasi dalam Cerita Kakek“, sosok ini tak jelas bagaimana wujudnya. Sosok itu hanya digambarkan senang makan anak kecil, dan tak doyan makan manusia dewasa.

Cerpen “Gergasi dalam Cerita Kakek” yang merupakan karya Herman RN, dimulai dengan sebuah adegan percakapan antara cucu dan kakeknya. Kakek meminta cucunya untuk selalu tidur cepat supaya tidak dimakan Gegasi. Si cucu yang penasaran dengan sosok Gegasi, tak mendapatkan keterangan terang dari kakeknya.

Kakek hanya berjanji akan bercerita, tapi pada akhirnya hanya akan menyuruh si cucu cepat tidur.
Menurut desas-desus di kampung, gegasi sering muncul di kampung, hanya saja ia tak makan anak kecil. Gegasi itu malah masuk ke rumah orang-orang dan mengambil emas dan barang berharga lainnya.

Hingga di suatu malam yang terang, malam bulan purnama, sosok gegasi itu berhasil ditangkap oleh warga. Gegasi yang hendak masuk ke rumah, berhasil ditangkap. Orang-orang menggebuki sosok yang diduga gegasi tersebut.

Si cucu yang kebetulan sedang main di luar, tertarik mendekat. Ia ingin melihat sebenarnya seperti bagaimana sosok gegasi yang kerap disebut-sebut oleh kakeknya setiap malam. Dan ternyata, sosok gegasi itu adalah....

Jeeeng... jeeenggg.... :D 

Biar tidak penasaran baca cerita selengkapnya di sini: Gegasi dalam Cerita Kakek (klik link URL)


***

Petunjuk dalam Gegasi


Di dalam cerpen ini, penulis memberikan beberapa petunjuk yang sayangnya bukan menguatkan, tapi justru mengurangi efek kejutan dalam plot twist di ending cerpen.

Pada beberapa bab di awal cerita, sudah disebutkan beberapa petunjuk, yang bila cermat diperhatikan, akan memberi jawaban atas ending cerpen. Salah satu petunjuk tersebut adalah sebagai berikut:

Kakek bekerja di rumah-rumah orang kaya kampung kami dan kampung tetangga. Kata kakek, siang ia bekerja. Malamnya, baru ia kembali ke rumah-rumah orang kaya itu untuk mengambil upah.

Akhir-akhir ini banyak orang mengatakan gegasi sering muncul di kampung kami. Tapi, gegasi yang diceritakan orang kampung tidak memakan anak kecil. Ia hanya masuk rumah-rumah orang, mengambil emas dan barang berharga lainnya. Lalu gegasi itu pergi entah ke mana.

Okelah, seumpama informasi itu tidak dianggap sebagai petunjuk menuju ending, cerita ini bisa menjadi karya yang menarik. Sehingga waktu membaca bagian akhir cerita dan menemukan bahwa gegasi yang mencuri uang dan emas itu adalah si kakek, pembaca tetap akan merasa terkejut dan juga trenyuh.

Oh, betapa syoknya si cucu saat melihat kakeknya yang dituduh gegasi oleh warga dan digebuki hingga berdarah-darah.

Tapi kalau sudah aware dengan dua paragraf di atas, tentu pembaca bisa sedikit usil menebak-nebak siapakah gegasi yang dimaksud.

Malam Terang Bulan


Satu lagi bagian yang sedikit janggal di dalam cerita pendek. Pada bagian menjelang ending diceritakan bahwa si cucu pamit main keluar bersama teman-teman saat malam bulan purnama. Malam yang biasanya gelap, diceritakan saat itu menjadi begitu terang.

Si kakek melarang namun si cucu tetap nekat bermain bersama teman.

Di dalam cerita pendek diceritakan kalau si cucu masih bermain bersama teman-temannya saat warga menangkap sosok gegasi. Para warga memukuli si gegasi itu. Si cucu penasaran ingin melihat sosok gegasi. Ia bersama teman-temannya mendekat.

Dan ternyata gegasi itu adalah kakeknya sendiri.

Kejanggalan yang nyata terpampang manjaaah di depan mata (hehe): 

  1. Mencuri kok dilakukan saat malam terang bulan purnama? Kenapa si kakek tidak ’libur‘ mencuri saja pada malam itu? Biasanya, terutama di kampung dan melihat penggambaran adegan si cucu pergi bermain keluar bersama teman, saat malam bulan purnama tentulah banyak warga dan anak-anak yang keluar rumah. Mereka beramai-ramai menikmati terangnya bulan malam itu.  Nah, masa pencuri malah mau membahayakan diri sendiri dengan melakukan aksinya saat malam sedang terang benderang?
  2. Waktunya berdekatan dengan saat si cucu pamit bermain bersama teman-teman. Kenapa nggak menunggu si cucu pulang dari bermain, menunggu si cucu tidur, barulah si kakek beraksi mencuri?
Tapi, after all, cerita pendek ”Gegasi dalam Cerita Kakek“ ini menarik untuk dibaca. Bravo untuk penulisnya, ya. 


Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Gegasi dalam Cerita Kakek," (Sila Klik Tautan!).
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.