[Review Buku] Papua dari Mata Bocah | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Papua dari Mata Bocah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:15 Rating: 4,5

[Review Buku] Papua dari Mata Bocah

Novel ini diperbincangkan setelah menjadi naskah unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Kombinasi bergengsi dalam khazanah sastra Indonesia. Apalagi bila menengok nama Nunuk Y. Kusmiana yang terbilang baru sebagai penulis sastra.

Kekuatan terbesar novel ini adalah penggunaan latar lokasi yang memikat. Nunuk mengungkapkan kenangan masa kecilnya ketika mengikuti orang tuanya pindah tugas ke Papua, setahun setelah Operasi Trikora. Kala itu, situasi politik dan ekonomi di sana belum stabil. Ayahnya termasuk kelompok tentara yang pertama dikirim ke Papua setelah Presiden Sukarno mencanangkan Trikora.

Nunuk membuka kisah melalui bocah kecil bernama Kinasih Andarwati alias Asih dengan sebuah misteri bernama tukang potong kep. Dia adalah seorang lelaki yang membawa parang serta kerap memotong kepala anak-anak dan disimpan di karung. Konon, kepala itu akan digunakan sebagai fondasi jembatan. Sejenis dongeng yang diciptakan untuk menakut-nakuti bocah, membuatnya menuruti perkataan orang tua.

Asih membawa kita menengok Papua dan persinggungan budaya antara pendatang dan penduduk lokal. Termasuk bagaimana dia berkawan akrab dengan bocah seusianya bernama Sendy. Sendy adalah teman pertamanya di Papua. Asih menganggap penting untuk menjadi teman sepadan baginya.

Melalui kacamata anak-anak, Nunuk membuka kenangan masa kecilnya dan bagaimana perkembangan sosial Papua. Dari Asih dan Sendy yang memanen buah karsen di kandang babi hingga kemudian bertemu dengan peliharaan Sendy, si burung kasuari. Juga gambaran Tante Tamb, tetangga di depan rumah Asih, yang kerap memanfaatkan kepolosan bocah itu. Tante Tamb sering mengendap-endap untuk mencuri bumbu dapur, minyak tanah, dan es batu dari rumah keluarga Asih.

Keluarga Asih telah membawa budaya baru yang berdampak besar terhadap budaya di sekitar perumahan mereka. Ibu Asih membuka toko kelontong, berbisnis minyak tanah, dan juga menjual es batu. Kekurangannya, Nunuk tidak menjabarkan lebih detail apa dampak budaya yang dimaksud.

Pengaruh keluarga Asih terhadap lingkungan sekitar sejatinya adalah sekadar gambaran mikro dari proses Jawanisasi di Papua. Contoh yang cukup kentara ialah perihal dongeng tukang potong kep yang bersumber dari cerita tanah Jawa. Secara tidak langsung, penulis ingin menyampaikan bahwa budaya Jawa soal tumbal kepala anak-anak yang kerap muncul di tengah pembangunan jembatan juga menyebar ke Pulau Papua. Siapa lagi pembawanya, selain para tentara atau perantau dari Jawa. Salah satunya tentu keluarga Asih.

Nunuk memang tidak sedang menulis novel yang mengeksplorasi budaya Papua. Lengking Burung Kasuari hanya meminjam lokasi Papua. Ia lebih banyak menarasikan kenangan masa kecil di Papua. Sebelum Nunuk, kita lebih dulu mengenal Seri Kenangan milik N.H. Dini yang jauh lebih kompleks dan komplet dalam mendedah kenangan masa kecil penulisnya. Dini tidak lupa menyinggung pergerakan sosial di sekelilingnya, yang menjadikan novel kenangan sejenis ini tidak hanya rentetan kisah masa kecil.

Sepanjang novel, masih banyak pertanyaan yang belum tuntas dijawab Nunuk. Selain tidak hadirnya rasa Papua, Nunuk melupakan bagaimana nasib tukang potong kep yang disajikan di awal. Sosok misterius ini hanya disinggung di beberapa halaman awal, kemudian pembaca digiring ke fragmen-fragmen geli, lucu, dan manis masa kecil Asih. Dan baru dibuka kembali menjelang kepindahan keluarga Asih. Itu pun dengan beberapa baris saja.

Nunuk terlena menggali kenangan tanpa berusaha setia pada alur yang disajikan kepada pembaca. Papua yang dikisahkan dari kacamata Asih juga masih kurang kuat. Kita hanya meraba-raba Papua kala itu sedang giat membangun jembatan, mengaspal jalan, dan memasukkan benda-benda modern, termasuk kulkas, ke pelosok Papua.

Lengking Burung Kasuari menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 bersama tiga naskah lainnya, yakni Tanah Surga Merah, Curriculumvitae, dan 24 Jam Bersama Gaspar. Adapun juara pertamanya adalah novel Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeovien-nazabrizkie.

Kantor berita Antara menyebutkan, dewan juri sayembara yang terdiri atas Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae memutuskan tidak ada pemenang kedua dan ketiga. Alasannya, ada perbedaan mutu yang tajam antara pemenang pertama dan 316 naskah lain yang berkompetisi.

Judul Lengking Burung Kasuari
Penulis Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Edisi Pertama, 2017
Tebal 224 Halaman

Teguh Afandi, editor dan pegiat @KlubBaca.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Afandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 21 - 22 Oktober 2017