[Review Buku] Buku Tak Biasa tentang Cina | Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra
[Review Buku] Buku Tak Biasa tentang Cina Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:28 Rating: 4,5

[Review Buku] Buku Tak Biasa tentang Cina

Tak sedikit orang yang paham akan rumitnya Revolusi Kebudayaan di Cina dan proses peralihan menuju ekonomi pasar sosialisme. Banyak pula akademikus maupun wartawan yang sudah menjelaskan apa yang terjadi sejak “Lompatan Besar ke Depan” Mao Zedong pada akhir 1950-an di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu.

Dengan demikian, ketika Michael Bristow, editor untuk urusan Asia BBC dengan pengalaman jurnalistik 20 tahun termasuk tujuh tahun di Cina—memilih judul China in Drag, Travels with a Cross-Dresser untuk bukunya, banyak alis mata yang terangkat. Perjalanan ke Cina? Dengan seorang pria yang suka berpakaian perempuan?

Buku ini tidak biasa. Dengan membaca pendahuluan yang cuma empat halaman, seluruh kontradiksi dalam kehidupan di Cina tecermin sudah. Bermula dari Michael yang terkejut melihat guru bahasa Mandarin-nya muncul dengan pakaian perempuan dan mengenakan lipstik. Bersama pria macam itu pula, Bristow berkeliling Kota Changsa untuk mencari rumah makan.

Bristow bukan bepergian ke tempat-tempat yang indah di Cina, melainkan menelusuri sejarah sosial-politik dari sebuah negara yang pernah amat miskin, dilanda kelaparan yang menewaskan 15 juta jiwa, tapi 70 tahun kemudian bangkit menjadi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia. Melalui pria yang suka berpakaian ala perempuan tersebut, Michael mendengar kisah-kisah tentang Revolusi Kebudayaan 1969-1976, ketangguhan mesin propaganda Partai Komunis Cina, kemunculan kaum kapitalis (ekonomi pasar sosialis), kultus individu Mao Zedong, dan efektivitas sistem pengawasan di Cina.

Pada September 1969, sang guru meninggalkan keluarganya di Beijing dalam usia 18 tahun bersama ribuan remaja lain. Ia menumpang kereta api ke pertanian komunal di Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, di ujung paling utara Cina, tempat salju dan es beku bertahan selama berbulan-bulan. “Saya gembira ketika pergi. Kami menjawab seruan Ketua Mao untuk belajar dari petani,” kata sang guru, yang tidak ingin jati dirinya diungkap agar tetap leluasa mengenakan pakaian perempuan.

Para remaja itu tiba-tiba harus melupakan sekolahnya, melupakan keluarganya, melupakan mimpinya demi menciptakan masyarakat tanpa kelas, seperti mimpi Ketua Mao. Sebuah komunisme tingkat tinggi yang hendak diwujudkan di Cina, dan bukan di tempat kelahirannya di Eropa.

Optimisme sang guru dan sekitar satu juta remaja Cina lain yang ikut dikirim ke kampung-kampung itu terbukti salah. Revolusi Kebudayaan bukan cuma membunuh jutaan orang, tapi juga mendorong reformasi ekonomi di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, yang membuat Cina kini menjadi salah satu negara dengan ketimpangan ekonomi terburuk di dunia.

Salah satu kota yang dikunjungi Bristow dan gurunya adalah Shaosan, kampung halaman Mao. Di sana pada 1962 dibangun sebuah vila bernama Dishuidong atau Gua Tetesan Air. Ironisnya, vila mewah yang bisa melindungi Mao dari bom, radiasi, dan gempa bumi itu dibangun pada masa bencana kelaparan melanda Cina.

Revolusi Kebudayaan memang tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan akal sehat. Sama seperti komunisme Cina yang justru semakin memuja globalisasi perekonomian. Pada awal 2017, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Presiden Cina Xi Jinping membela globalisasi ekonomi, ketika Donald Trump—yang kemudian menang dalam pemilihan presiden—mengusung tema proteksionisme.

Kontradiksi mungkin menjadi kata kunci di Cina dalam menghadapi perubahan-perubahan besar sosial-politik-ekonomi, dengan tetap berpegang pada kepemimpinan tunggal Partai Komunis Cina.

Dalam perjalanannya, Bristow beruntung bisa menyaksikan pemilihan empat deputi kepala pemerintah di Yongning. Bristow kecewa karena menyaksikan hanya ada empat calon untuk empat posisi. Bahkan, ketika sang pejabat memperkenalkan empat calon itu, dia sudah menyebutnya sebagai deputi. Tapi tetap saja belasan delegasi memberikan suaranya dan hasil penghitungan suara mengukuhkan jabatan yang sebelumnya toh sudah diberikan kepada keempat calon.

Bristow merasakan pula efektivitas mesin pengawasan Cina. Dalam perjalanan ke Tibet, dia bersama dua rekannya dibawa ke pos polisi untuk diinterogasi selama sembilan jam sebelum akhirnya disuruh pulang. Kesalahan mereka? Tidak membawa Dokumen Penduduk Sementara. Kealpaan itu jelas tidak akan menjadi soal jika berkunjung ke tempat lain.

Begitu pula ketika ingin mewawancarai pengacara hak asasi manusia Chen Guangcheng di kampungnya di Provinsi Shandong, Bristow bersama rekannya dihentikan oleh sekelompok pria bercelana jins dan kaus oblong. Tidak ada identitas yang ditunjukkan para pria itu, juga tidak jelas wewenangnya, tapi perintah mereka sepertinya bukan untuk dibantah. Setelah berbicara dengan seseorang melalui walkie talkie, Bristow diperintahkan segera meninggalkan kampung tersebut.

Beberapa bulan kemudian, dia menanyakan insiden itu kepada seorang pejabat di Beijing. Menurut si pejabat, kelompok pria itu adalah warga kampung yang kesal melihat terlalu banyak orang datang untuk bertemu sang pengacara. “Dia dan aku sama-sama tahu bahwa itu omong kosong.”

Berakhirnya Revolusi Kebudayaan membuat pak guru bisa kembali meneruskan pendidikannya setelah bekerja di sebuah pabrik dan menjadi wartawan di sebuah majalah. Beberapa tahun kemudian, dia berkarier sebagai dosen bahasa di sebuah universitas bergengsi di Beijing serta memberi kursus privat bahasa.

Sekali waktu Bristow bersama gurunya makan di Yuebin, Beijing. Saat makan, dua pria berjas memesan makanan dalam porsi besar, yang pasti tidak bisa dihabiskan oleh keduanya. Perilaku pamer kekayaan semacam ini sudah biasa terjadi di Cina. Pak guru tampak terganggu dan bertanya keras untuk menyindir, “Berapa banyak makanan yang kalian pesan?”

Bristow juga mengangkat sosok-sosok yang tersingkir, seperti Gao Gisheng, pengacara yang pernah dipuja pemerintah. Nasibnya berubah ketika dia mulai membela orang-orang yang menentang pemerintah. Gao harus keluar-masuk penjara beberapa kali. Ada lagi Liu Xiaobo, peraih Nobel Perdamaian 2010, yang meninggal pada 13 Juli 2017 karena menderita kanker hati.

Judul : China in Drag, Travels with a Cross-Dresser
Penulis : Michael Bristow
Penerbit : Standstone Press, 2017
Tebal : 211 halaman

Bambang Kencana, penulis yang tinggal di London.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bambang Kencana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 6-7 Januari 2018