Kliping Sastra Indonesia | Ulasan Karya Sastra

Senin, 08 Januari 2018

[Review Buku] Buku Tak Biasa tentang Cina


Tak sedikit orang yang paham akan rumitnya Revolusi Kebudayaan di Cina dan proses peralihan menuju ekonomi pasar sosialisme. Banyak pula akademikus maupun wartawan yang sudah menjelaskan apa yang terjadi sejak “Lompatan Besar ke Depan” Mao Zedong pada akhir 1950-an di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu.

Dengan demikian, ketika Michael Bristow, editor untuk urusan Asia BBC dengan pengalaman jurnalistik 20 tahun termasuk tujuh tahun di Cina—memilih judul China in Drag, Travels with a Cross-Dresser untuk bukunya, banyak alis mata yang terangkat. Perjalanan ke Cina? Dengan seorang pria yang suka berpakaian perempuan?

Buku ini tidak biasa. Dengan membaca pendahuluan yang cuma empat halaman, seluruh kontradiksi dalam kehidupan di Cina tecermin sudah. Bermula dari Michael yang terkejut melihat guru bahasa Mandarin-nya muncul dengan pakaian perempuan dan mengenakan lipstik. Bersama pria macam itu pula, Bristow berkeliling Kota Changsa untuk mencari rumah makan.

Bristow bukan bepergian ke tempat-tempat yang indah di Cina, melainkan menelusuri sejarah sosial-politik dari sebuah negara yang pernah amat miskin, dilanda kelaparan yang menewaskan 15 juta jiwa, tapi 70 tahun kemudian bangkit menjadi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia. Melalui pria yang suka berpakaian ala perempuan tersebut, Michael mendengar kisah-kisah tentang Revolusi Kebudayaan 1969-1976, ketangguhan mesin propaganda Partai Komunis Cina, kemunculan kaum kapitalis (ekonomi pasar sosialis), kultus individu Mao Zedong, dan efektivitas sistem pengawasan di Cina.

Pada September 1969, sang guru meninggalkan keluarganya di Beijing dalam usia 18 tahun bersama ribuan remaja lain. Ia menumpang kereta api ke pertanian komunal di Qiqihar, Provinsi Heilongjiang, di ujung paling utara Cina, tempat salju dan es beku bertahan selama berbulan-bulan. “Saya gembira ketika pergi. Kami menjawab seruan Ketua Mao untuk belajar dari petani,” kata sang guru, yang tidak ingin jati dirinya diungkap agar tetap leluasa mengenakan pakaian perempuan.

Para remaja itu tiba-tiba harus melupakan sekolahnya, melupakan keluarganya, melupakan mimpinya demi menciptakan masyarakat tanpa kelas, seperti mimpi Ketua Mao. Sebuah komunisme tingkat tinggi yang hendak diwujudkan di Cina, dan bukan di tempat kelahirannya di Eropa.

Optimisme sang guru dan sekitar satu juta remaja Cina lain yang ikut dikirim ke kampung-kampung itu terbukti salah. Revolusi Kebudayaan bukan cuma membunuh jutaan orang, tapi juga mendorong reformasi ekonomi di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, yang membuat Cina kini menjadi salah satu negara dengan ketimpangan ekonomi terburuk di dunia.

Salah satu kota yang dikunjungi Bristow dan gurunya adalah Shaosan, kampung halaman Mao. Di sana pada 1962 dibangun sebuah vila bernama Dishuidong atau Gua Tetesan Air. Ironisnya, vila mewah yang bisa melindungi Mao dari bom, radiasi, dan gempa bumi itu dibangun pada masa bencana kelaparan melanda Cina.

Revolusi Kebudayaan memang tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan akal sehat. Sama seperti komunisme Cina yang justru semakin memuja globalisasi perekonomian. Pada awal 2017, dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Presiden Cina Xi Jinping membela globalisasi ekonomi, ketika Donald Trump—yang kemudian menang dalam pemilihan presiden—mengusung tema proteksionisme.

Kontradiksi mungkin menjadi kata kunci di Cina dalam menghadapi perubahan-perubahan besar sosial-politik-ekonomi, dengan tetap berpegang pada kepemimpinan tunggal Partai Komunis Cina.

Dalam perjalanannya, Bristow beruntung bisa menyaksikan pemilihan empat deputi kepala pemerintah di Yongning. Bristow kecewa karena menyaksikan hanya ada empat calon untuk empat posisi. Bahkan, ketika sang pejabat memperkenalkan empat calon itu, dia sudah menyebutnya sebagai deputi. Tapi tetap saja belasan delegasi memberikan suaranya dan hasil penghitungan suara mengukuhkan jabatan yang sebelumnya toh sudah diberikan kepada keempat calon.

Bristow merasakan pula efektivitas mesin pengawasan Cina. Dalam perjalanan ke Tibet, dia bersama dua rekannya dibawa ke pos polisi untuk diinterogasi selama sembilan jam sebelum akhirnya disuruh pulang. Kesalahan mereka? Tidak membawa Dokumen Penduduk Sementara. Kealpaan itu jelas tidak akan menjadi soal jika berkunjung ke tempat lain.

Begitu pula ketika ingin mewawancarai pengacara hak asasi manusia Chen Guangcheng di kampungnya di Provinsi Shandong, Bristow bersama rekannya dihentikan oleh sekelompok pria bercelana jins dan kaus oblong. Tidak ada identitas yang ditunjukkan para pria itu, juga tidak jelas wewenangnya, tapi perintah mereka sepertinya bukan untuk dibantah. Setelah berbicara dengan seseorang melalui walkie talkie, Bristow diperintahkan segera meninggalkan kampung tersebut.

Beberapa bulan kemudian, dia menanyakan insiden itu kepada seorang pejabat di Beijing. Menurut si pejabat, kelompok pria itu adalah warga kampung yang kesal melihat terlalu banyak orang datang untuk bertemu sang pengacara. “Dia dan aku sama-sama tahu bahwa itu omong kosong.”

Berakhirnya Revolusi Kebudayaan membuat pak guru bisa kembali meneruskan pendidikannya setelah bekerja di sebuah pabrik dan menjadi wartawan di sebuah majalah. Beberapa tahun kemudian, dia berkarier sebagai dosen bahasa di sebuah universitas bergengsi di Beijing serta memberi kursus privat bahasa.

Sekali waktu Bristow bersama gurunya makan di Yuebin, Beijing. Saat makan, dua pria berjas memesan makanan dalam porsi besar, yang pasti tidak bisa dihabiskan oleh keduanya. Perilaku pamer kekayaan semacam ini sudah biasa terjadi di Cina. Pak guru tampak terganggu dan bertanya keras untuk menyindir, “Berapa banyak makanan yang kalian pesan?”

Bristow juga mengangkat sosok-sosok yang tersingkir, seperti Gao Gisheng, pengacara yang pernah dipuja pemerintah. Nasibnya berubah ketika dia mulai membela orang-orang yang menentang pemerintah. Gao harus keluar-masuk penjara beberapa kali. Ada lagi Liu Xiaobo, peraih Nobel Perdamaian 2010, yang meninggal pada 13 Juli 2017 karena menderita kanker hati.

Judul : China in Drag, Travels with a Cross-Dresser
Penulis : Michael Bristow
Penerbit : Standstone Press, 2017
Tebal : 211 halaman

Bambang Kencana, penulis yang tinggal di London.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bambang Kencana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 6-7 Januari 2018
Share:

Kamis, 28 Desember 2017

[Review Buku] Toko Buku, Kota, dan Makna


Kita senantiasa menjumpai novel-novel yang berkisah tentang buku. Dari The Savage Detectives karya Roberto Bolano, Un viejo que leia historias de amor (Luis Sepulveda), hingga La casa de papel (Carlos Maria Dominguez). Bagi pencinta buku, novel-novel tentang buku sangat menggoda. Pencinta buku lekas kepincut oleh novel yang menghadirkan buku sebagai latar, dengan tebaran kutipan buku-buku karangan penulis terkenal, dan bertokohkan seorang pembaca buku.

Agaknya hal itu pula yang menjadi strategi Gabrielle Zevin saat menggarap novel The Storied Life of A.J. Fikry. Dalam novel ini, kita akan menjumpai cara lain Zevin memikat pembaca melalui penyebutan buku dan nama pengarang dunia, seperti A Farewell to Arms (Ernest Hemingway), A Perfect Day for Bananafish (J.D. Salinger), dan The Great Gatsby (Scott Fitzgerald). Meski Zevin mengakui bahwa gagasan menulis novel ini muncul dalam sebuah perjalanan bersama Mark Gates—seorang wiraniaga untuk penerbit ternama Farrar Straus Giroux—dalam suatu tur bukunya.

Novel tersebut berkisah tentang A.J. Fikry, pemilik toko buku independen di Pulau Alice, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia tinggal di apartemen di atas toko bukunya. Depresi lantaran istrinya meninggal, Fikry menjadi penyendiri, menjauh dari orang-orang, dan gampang tersinggung dalam perkara buku. Lewat Fikry, Zevin menyodori kita tokoh seorang pembaca buku yang sinis, dengan cara pandang kuno, dan angkuh terhadap sejumlah buku: “Aku muak terhadap novel-novel karya bintang televisi realitas yang ditulis penulis bayangan, buku foto selebriti, memoar olahraga, edisi dengan sampul poster film, barang-barang koleksi, dan—kurasa ini tidak perlu dikatakan lagi—vampir.”

Meski seorang penjual buku, Fikry digambarkan sebagai pembaca yang amat kritis dalam memilih buku-buku untuk dijual. Bukannya menyediakan buku sesuai dengan selera pembeli, ia hanya menjual buku yang diminatinya. Akibatnya, toko itu kekurangan pembeli; penjualan semakin merosot; dan puncaknya saat buku langka dan mahal, yakni kumpulan puisi Edgar Allan Poe, Tamerlane, miliknya dicuri.

***
Toko buku A.J. Fikry adalah toko buku satu-satunya di sebuah pulau kecil. Sebelumnya, tidak ada toko buku di kota kelahirannya itu. Ide mendirikan toko buku ini bermula dari percakapannya dengan Nic, istrinya. Saat itu Fikry merasa frustrasi untuk menyelesaikan disertasinya tentang penggambaran penyakit dalam karya-karya Edgar Allan Poe. Nic berkata, “Ada cara-cara yang lebih baik dan bahagia untuk menjalani kehidupan literatur.” Mengikuti saran istrinya, Fikry memutuskan membuka toko buku dan menamainya Island Books.

Bagi Fikry dan istrinya, suatu kota tidaklah lengkap tanpa toko buku. Keterkaitan toko buku dan kota dapat kita jumpai pula misalnya dalam novel Nina George yang telah diterjemahkan dengan judul Toko Buku Kecil di Paris (2017). Monseur Perdu, tokoh utama novel, adalah pemilik sebuah toko buku apung Literacy Apothecary di Sungai Seine, Paris. Toko buku Apotek Kesusastraan Jean Perdu demikian istimewa karena Perdu bukan penjual buku biasa. “Aku menjual buku seperti obat.” Perdu menyebut dirinya apoteker literatur.

Layaknya seorang apoteker, Perdu meresepkan novel-novel kepada pembelinya sebagai obat untuk meringankan kegalauan hidup warga Paris. Menurut Perdu, tugas penjual buku bukanlah semata-mata menjaga barang jualannya. “Aku ingin mengobati perasaan yang tak diakui sebagai penyakit dan tak pernah didiagnosis dokter,” kata dia. Untuk pengobatan, Perdu memakai buku-buku karangan penulis terkenal, seperti Miguel de Cevantes, Hermann Hesse, Franz Kafka, Gorge Orwell, dan Mark Twain.

Kedua novel sama-sama memandang buku bukan semata bahan bacaan. Bagi Fikry maupun Perdu, kehadiran toko buku di sebuah kota tidak hanya penting secara spasial maupun edukasi, tapi juga bermakna sosial dan psikologis bagi orang-orang. Seperti dikatakan seorang pasien Perdu bahwa dia lebih menghargai buku ketimbang manusia. Menurut dia, buku tidak semengancam manusia. Maka Fikry seakan menegaskan pendapat itu, “Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian.”

Lewat novel tersebut, kita dapat berkaca mengenai makna toko buku. Selama ini kita masih menyangsikan keterkaitan buku dengan tata kota. Geliat modernitas tidak dibarengi dengan kemunculan toko buku di sudut-sudut kota. Kecuali toko buku raksasa Gramedia, ingatan kita tentang toko buku selalu berkisar tentang kios-kios buku loakan yang menjual buku-buku bekas dan bajakan di dekat stasiun, pasar, dan pinggiran jalan. Kehadiran toko buku dianggap tidak penting. Kota-kota belum menjadi cerminan kegembiraan membaca buku. Toko buku selalu kalah pamor ketimbang pusat belanja.

Zaman terus bergerak dan segalanya beralih serba digital, termasuk buku. Orang-orang semakin malas ke toko buku saat buku cetak perlahan berganti ebook dan membaca buku dapat dilakukan dari layar telepon seluler. Persis seperti yang kerap direnungkan Fikry bahwa semua hal terbaik di dunia sedikit demi sedikit lenyap bagaikan lemak dari daging. Pertama, toko kaset; kemudian toko video, surat kabar, dan majalah; dan sekarang toko buku mulai menghilang dari segala penjuru.


Judul : The Storied Life of A.J. Fikry (Kisah Hidup A.J. Fikry)
Penulis : Gabrielle Zevin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Oktober 2017
Tebal : 280 halaman

Muhammad Khambali, pembaca buku dan pegiat di Pustaka Kaji, Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Khambali
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 24-25 Desember 2018
Share:

Selasa, 24 Oktober 2017

[Review Buku] Papua dari Mata Bocah


Novel ini diperbincangkan setelah menjadi naskah unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 dan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Kombinasi bergengsi dalam khazanah sastra Indonesia. Apalagi bila menengok nama Nunuk Y. Kusmiana yang terbilang baru sebagai penulis sastra.

Kekuatan terbesar novel ini adalah penggunaan latar lokasi yang memikat. Nunuk mengungkapkan kenangan masa kecilnya ketika mengikuti orang tuanya pindah tugas ke Papua, setahun setelah Operasi Trikora. Kala itu, situasi politik dan ekonomi di sana belum stabil. Ayahnya termasuk kelompok tentara yang pertama dikirim ke Papua setelah Presiden Sukarno mencanangkan Trikora.

Nunuk membuka kisah melalui bocah kecil bernama Kinasih Andarwati alias Asih dengan sebuah misteri bernama tukang potong kep. Dia adalah seorang lelaki yang membawa parang serta kerap memotong kepala anak-anak dan disimpan di karung. Konon, kepala itu akan digunakan sebagai fondasi jembatan. Sejenis dongeng yang diciptakan untuk menakut-nakuti bocah, membuatnya menuruti perkataan orang tua.

Asih membawa kita menengok Papua dan persinggungan budaya antara pendatang dan penduduk lokal. Termasuk bagaimana dia berkawan akrab dengan bocah seusianya bernama Sendy. Sendy adalah teman pertamanya di Papua. Asih menganggap penting untuk menjadi teman sepadan baginya.

Melalui kacamata anak-anak, Nunuk membuka kenangan masa kecilnya dan bagaimana perkembangan sosial Papua. Dari Asih dan Sendy yang memanen buah karsen di kandang babi hingga kemudian bertemu dengan peliharaan Sendy, si burung kasuari. Juga gambaran Tante Tamb, tetangga di depan rumah Asih, yang kerap memanfaatkan kepolosan bocah itu. Tante Tamb sering mengendap-endap untuk mencuri bumbu dapur, minyak tanah, dan es batu dari rumah keluarga Asih.

Keluarga Asih telah membawa budaya baru yang berdampak besar terhadap budaya di sekitar perumahan mereka. Ibu Asih membuka toko kelontong, berbisnis minyak tanah, dan juga menjual es batu. Kekurangannya, Nunuk tidak menjabarkan lebih detail apa dampak budaya yang dimaksud.

Pengaruh keluarga Asih terhadap lingkungan sekitar sejatinya adalah sekadar gambaran mikro dari proses Jawanisasi di Papua. Contoh yang cukup kentara ialah perihal dongeng tukang potong kep yang bersumber dari cerita tanah Jawa. Secara tidak langsung, penulis ingin menyampaikan bahwa budaya Jawa soal tumbal kepala anak-anak yang kerap muncul di tengah pembangunan jembatan juga menyebar ke Pulau Papua. Siapa lagi pembawanya, selain para tentara atau perantau dari Jawa. Salah satunya tentu keluarga Asih.

Nunuk memang tidak sedang menulis novel yang mengeksplorasi budaya Papua. Lengking Burung Kasuari hanya meminjam lokasi Papua. Ia lebih banyak menarasikan kenangan masa kecil di Papua. Sebelum Nunuk, kita lebih dulu mengenal Seri Kenangan milik N.H. Dini yang jauh lebih kompleks dan komplet dalam mendedah kenangan masa kecil penulisnya. Dini tidak lupa menyinggung pergerakan sosial di sekelilingnya, yang menjadikan novel kenangan sejenis ini tidak hanya rentetan kisah masa kecil.

Sepanjang novel, masih banyak pertanyaan yang belum tuntas dijawab Nunuk. Selain tidak hadirnya rasa Papua, Nunuk melupakan bagaimana nasib tukang potong kep yang disajikan di awal. Sosok misterius ini hanya disinggung di beberapa halaman awal, kemudian pembaca digiring ke fragmen-fragmen geli, lucu, dan manis masa kecil Asih. Dan baru dibuka kembali menjelang kepindahan keluarga Asih. Itu pun dengan beberapa baris saja.

Nunuk terlena menggali kenangan tanpa berusaha setia pada alur yang disajikan kepada pembaca. Papua yang dikisahkan dari kacamata Asih juga masih kurang kuat. Kita hanya meraba-raba Papua kala itu sedang giat membangun jembatan, mengaspal jalan, dan memasukkan benda-benda modern, termasuk kulkas, ke pelosok Papua.

Lengking Burung Kasuari menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 bersama tiga naskah lainnya, yakni Tanah Surga Merah, Curriculumvitae, dan 24 Jam Bersama Gaspar. Adapun juara pertamanya adalah novel Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeovien-nazabrizkie.

Kantor berita Antara menyebutkan, dewan juri sayembara yang terdiri atas Bramantio, Seno Gumira Ajidarma, dan Zen Hae memutuskan tidak ada pemenang kedua dan ketiga. Alasannya, ada perbedaan mutu yang tajam antara pemenang pertama dan 316 naskah lain yang berkompetisi.

Judul Lengking Burung Kasuari
Penulis Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Edisi Pertama, 2017
Tebal 224 Halaman

Teguh Afandi, editor dan pegiat @KlubBaca.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Afandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 21 - 22 Oktober 2017 
Share:

Selasa, 10 Oktober 2017

[Review Buku] Pohon Belum Bersirkus


Nama Andrea Hirata masih menjanjikan. Novel terbarunya, Sirkus Pohon, sudah laris bahkan sejak novel tersebut belum berjudul. Novel itu diluncurkan pada 15 Agustus lalu dan pada tanggal itu juga judul novel Andrea baru diungkapkan.

Sebelumnya, novel itu sudah ramai dipromosikan meski memakai nama sementara: #KaryaKe10Andrea. Promosi novel Andrea meliputi agenda Berburu Karya Andrea dan Nyanyian untuk Pak Cik. Kendati khalayak sama sekali belum tahu novel seperti apa yang dikarang Andrea, mereka banyak yang tertarik dan memesan (pre-order) novel semata-mata karena “nama besar” pengarangnya!

Memang, Andrea mesti diakui sebagai pengarang penting di Indonesia, walau ia cenderung berjarak dari lingkungan sastra kita. Andrea menempuh pendidikan ekonomi, alih-alih sastra, bahasa, apalagi filsafat. Namun ia dianugerahi keberuntungan ilahiah, langsung dari Tuhan, yakni dilahirkan di Gantung, Belitung Timur. Dengan itu, ia tumbuh dalam konteks sosial yang menarik untuk dinarasikan melalui novel. Tak pelak, Laskar Pelangi (2005) yang ditulisnya meraih perhatian luar biasa di dalam dan luar negeri, entah oleh pembaca maupun penonton film yang diadaptasi dari novel itu. Kesuksesan Laskar Pelangi kemudian Andrea jinjing melulu, disematkan sebagai instrumen promosi novel-novel berikutnya, termasuk Sirkus Pohon.

Konon, menurut keterangan Andrea, Sirkus Pohon itu novel terbaik yang pernah dikarangnya. Ia mengakui, “Buku ini memberi saya kesan this is it, memberi saya kesan apa yang ingin saya sampaikan selama ini sebagai seorang penulis, memberi saya kesan sudah lama saya ingin menulis seperti ini.” Novel yang nantinya terbit sebagai trilogi itu dikerjakan dalam tempo relatif panjang. Andrea memerlukan riset selama empat tahun, sampai-sampai mesti berkunjung ke Tahiti untuk belajar tentang pohon delima. Proses penulisan sendiri berlangsung selama dua tahun. Enam tahun waktu pengerjaan itu pun dibayang-bayangi kesuksesan Laskar Pelangi. Novel-novel sebelum Sirkus Pohon terbukti gagal melampaui pencapaian novel perdananya itu.

Sirkus Pohon, sebagai “this is it” Andrea, menanggung beban berat untuk menjaga reputasinya yang bertaraf internasional. Hanya, tak banyak hal baru yang Andrea tawarkan dalam novel itu. Sirkus Pohon masih berlatar tempat di kampung Melayu pedalaman. Andrea lagi-lagi mengisahkan perjalanan menuju sukses dari bocah hingga dewasa. Bedanya, jika Laskar Pelangi bertokoh bocah-bocah yang dapat lanjut sekolah, Sirkus Pohon mengisahkan mereka yang putus sekolah. Dalam hal ini, rasionalitas menjadi tantangan besar Andrea. Sebab, ia telah memilih jalur realisme, yang dalam terminologi Andrea sendiri, “fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.” Meski begitu, sekian peristiwa dalam Sirkus Pohon terasa picisan dan sulit diterima sebagai fakta sosial yang mungkin terjadi.

Kebaruan yang ditawarkan Andrea barangkali pretensinya berbicara politik, meski dalam lingkup kampung. Politik bukan semata-mata selipan atau selingan. Politik hadir di sekujur novel, sebagai pangkal peristiwa dalam Sirkus Pohon. Politik dimaknai Andrea secara praktis, yakni pemilihan kepala desa Kampung Ketumbi. Kendati begitu, peristiwa hidup Sobridin (tokoh utama novel) sendiri sebetulnya ditentukan oleh konspirasi politis Taripol Mafia dan Abdul Rapi. Andrea mempertemukan kita pada peristiwa yang mengesankan dan cukup memberikan efek kejut di akhir novel. Sayangnya, humor-humor yang bertaburan di sela-sela peristiwa tak begitu mengundang tawa. Andrea cenderung mengulang beberapa humor yang sama, Debuludin yang “berdebu-debu” misalnya.

Kebaruan lain yang Andrea tawarkan adalah teknik. Ia tidak menggunakan teknik komparasi dan analogi sebagaimana novel-novel sebelumnya, melainkan teknik yang ia sebut “sintesis”. Andrea memberi penjelasan, “Novel ini tidak bisa digambarkan dengan gamblang karena menulisnya dengan teknik ‘sintesis’. Maksud saya adalah, ini sudah membandingkan hal-hal yang tidak berhubungan.” Andrea menyajikan sekian peristiwa yang berlainan ruang dan waktu, masing-masing bertokoh Sobridin, Dinda, Tara beserta ibu dan sirkus keliling, Tegar, Gastori, dan Taripol. Sekian peristiwa bergantian tampil. Memang, dari peristiwa satu ke peristiwa dua dan seterusnya, terasa tidak berhubungan. Namun Andrea justru meruntuhkan ketakterhubungan itu sendiri di akhir novel untuk menunjukkan bahwa setiap peristiwa sebetulnya berhubungan.

Penentuan judul Sirkus Pohon sebetulnya problematis. Dalam novel itu memang ada pohon dan ada sirkus, bahkan menjelang akhir novel ditunjukkan pohon untuk berada di tengah-tengah sirkus. Namun penampilan pohon delima dalam novel itu kurang atraktif untuk mendefinisikan Sirkus Pohon. Sebetulnya, Andrea menyatakan, “Novel ini merupakan Laskar Pelangi dalam bentuk lain, bukan dalam karakter utama Ikal, Mahar, dan Lintang. Namun Laskar Pelangi dengan karakter utama sebatang pohon delima.”

Pernyataan Andrea bahwa tokoh utama Sirkus Pohon adalah sebatang pohon kurang bisa diterima. Pohon agak terlambat dihadirkan sebagai entitas penting. Pohon itu pun kurang berperan penting. Kalaupun berperan, pohon itu cuma dijadikan instrumen, bukan tokoh utama sebagaimana yang Andrea nyatakan.

Ada baiknya Andrea agak rendah hati dan mau belajar kepada novelis muda, semisal Faisal Oddang atau Ziggy Zezs yazeoviennazabrizkie, dalam menarasikan pohon. Meski tetap ada cela pada setiap novel mereka: Puya ke Puya (2015) dan Semua Ikan di Langit (2017), toh Faisal dan Ziggy relatif sukses menarasikan pohon sebagai tokoh dengan baik. Ziggy mengizinkan pohon dalam novelnya berdialog dengan tokoh-tokoh lain, sedangkan Faisal sanggup menempatkan pohon pada posisi sentral dalam kisah. Dua penulis muda itu menautkan pohon pada hal-ihwal religius, menarasikan proses kehidupan dan penciptaan. Andrea justru mengaitkan pohon dengan industri hiburan, dan risikonya adalah ketidaksanggupan mengagungkan pohon di semesta Sirkus Pohon. Jika benar nantinya Sirkus Pohon mewujud trilogi, kita doakan saja agar Andrea mampu menambal lubang-lubang Sirkus Pohon di novel berikutnya.


Judul : Sirkus Pohon
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Cetakan: Pertama, Agustus 2017
Tebal : 410 halaman


Udji Kayang Aditya Supriyanto, pembaca sastra dan pengelola Bukulah!

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Udji Kayang Aditya Supriyanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 7 - 8 Oktober 2017 
Share:

Rabu, 22 Maret 2017

[Review Cerpen] Gegasi dalam Cerita Kakek


CERPEN mengenai Gegasi yang dimuat koran Kompas edisi Minggu, 19 Maret 2017 mengandalkan plot twist pada bagian ending. Pilihan yang tepat, hanya saja bila cerpen utuh ini diandaikan sebagai sebuah bangunan, pilihan itu kurang kuat/kokoh.

Di dalam KBBI, tersebutlah Gergasi (bukan Gegasi), yakni raksasa yang besar, suka makan orang. Di dalam sebuah dongeng kancil, Gergasi disebut sebagai sejenis raksasa pemakan hewan dan buah-buahan hutan. Sementara itu, di dalam cerpen Kompas ”Gegasi dalam Cerita Kakek“, sosok ini tak jelas bagaimana wujudnya. Sosok itu hanya digambarkan senang makan anak kecil, dan tak doyan makan manusia dewasa.

Cerpen “Gergasi dalam Cerita Kakek” yang merupakan karya Herman RN, dimulai dengan sebuah adegan percakapan antara cucu dan kakeknya. Kakek meminta cucunya untuk selalu tidur cepat supaya tidak dimakan Gegasi. Si cucu yang penasaran dengan sosok Gegasi, tak mendapatkan keterangan terang dari kakeknya.

Kakek hanya berjanji akan bercerita, tapi pada akhirnya hanya akan menyuruh si cucu cepat tidur.
Menurut desas-desus di kampung, gegasi sering muncul di kampung, hanya saja ia tak makan anak kecil. Gegasi itu malah masuk ke rumah orang-orang dan mengambil emas dan barang berharga lainnya.

Hingga di suatu malam yang terang, malam bulan purnama, sosok gegasi itu berhasil ditangkap oleh warga. Gegasi yang hendak masuk ke rumah, berhasil ditangkap. Orang-orang menggebuki sosok yang diduga gegasi tersebut.

Si cucu yang kebetulan sedang main di luar, tertarik mendekat. Ia ingin melihat sebenarnya seperti bagaimana sosok gegasi yang kerap disebut-sebut oleh kakeknya setiap malam. Dan ternyata, sosok gegasi itu adalah....

Jeeeng... jeeenggg.... :D 

Biar tidak penasaran baca cerita selengkapnya di sini: Gegasi dalam Cerita Kakek (klik link URL)


***

Petunjuk dalam Gegasi


Di dalam cerpen ini, penulis memberikan beberapa petunjuk yang sayangnya bukan menguatkan, tapi justru mengurangi efek kejutan dalam plot twist di ending cerpen.

Pada beberapa bab di awal cerita, sudah disebutkan beberapa petunjuk, yang bila cermat diperhatikan, akan memberi jawaban atas ending cerpen. Salah satu petunjuk tersebut adalah sebagai berikut:

Kakek bekerja di rumah-rumah orang kaya kampung kami dan kampung tetangga. Kata kakek, siang ia bekerja. Malamnya, baru ia kembali ke rumah-rumah orang kaya itu untuk mengambil upah.

Akhir-akhir ini banyak orang mengatakan gegasi sering muncul di kampung kami. Tapi, gegasi yang diceritakan orang kampung tidak memakan anak kecil. Ia hanya masuk rumah-rumah orang, mengambil emas dan barang berharga lainnya. Lalu gegasi itu pergi entah ke mana.

Okelah, seumpama informasi itu tidak dianggap sebagai petunjuk menuju ending, cerita ini bisa menjadi karya yang menarik. Sehingga waktu membaca bagian akhir cerita dan menemukan bahwa gegasi yang mencuri uang dan emas itu adalah si kakek, pembaca tetap akan merasa terkejut dan juga trenyuh.

Oh, betapa syoknya si cucu saat melihat kakeknya yang dituduh gegasi oleh warga dan digebuki hingga berdarah-darah.

Tapi kalau sudah aware dengan dua paragraf di atas, tentu pembaca bisa sedikit usil menebak-nebak siapakah gegasi yang dimaksud.

Malam Terang Bulan


Satu lagi bagian yang sedikit janggal di dalam cerita pendek. Pada bagian menjelang ending diceritakan bahwa si cucu pamit main keluar bersama teman-teman saat malam bulan purnama. Malam yang biasanya gelap, diceritakan saat itu menjadi begitu terang.

Si kakek melarang namun si cucu tetap nekat bermain bersama teman.

Di dalam cerita pendek diceritakan kalau si cucu masih bermain bersama teman-temannya saat warga menangkap sosok gegasi. Para warga memukuli si gegasi itu. Si cucu penasaran ingin melihat sosok gegasi. Ia bersama teman-temannya mendekat.

Dan ternyata gegasi itu adalah kakeknya sendiri.

Kejanggalan yang nyata terpampang manjaaah di depan mata (hehe): 

  1. Mencuri kok dilakukan saat malam terang bulan purnama? Kenapa si kakek tidak ’libur‘ mencuri saja pada malam itu? Biasanya, terutama di kampung dan melihat penggambaran adegan si cucu pergi bermain keluar bersama teman, saat malam bulan purnama tentulah banyak warga dan anak-anak yang keluar rumah. Mereka beramai-ramai menikmati terangnya bulan malam itu.  Nah, masa pencuri malah mau membahayakan diri sendiri dengan melakukan aksinya saat malam sedang terang benderang?
  2. Waktunya berdekatan dengan saat si cucu pamit bermain bersama teman-teman. Kenapa nggak menunggu si cucu pulang dari bermain, menunggu si cucu tidur, barulah si kakek beraksi mencuri?
Tapi, after all, cerita pendek ”Gegasi dalam Cerita Kakek“ ini menarik untuk dibaca. Bravo untuk penulisnya, ya. 


Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "Gegasi dalam Cerita Kakek," (Sila Klik Tautan!).
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.

Share:

Selasa, 07 Juni 2016

[Review Cerpen] Presiden Jebule


Membaca karya Budi Darma berjudul Presiden Jebule ini, sepertinya tak akan kaget bagi sobat klipingsastra yang pernah menyimak Olenka, Rafilus, dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington, serta beberapa cerpen lainnya. Karena sama-sama menawarkan keganjilan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh penulisnya. 

Tokoh Olenka memiliki keganjilan yang khas yang menjadikan buku ini digandrungi banyak pembaca. Belum lagi orang-orang Bloomington yang tokoh-tokohnya bak orang terasing, tak mudah bersosialisasi dan memiliki perilaku ganjil. Pun, Rafilus yang menggunakan setting lokasi di Surabaya ini masih menawarkan hal sama.

Formula tersebut digunakan kembali oleh Budi Darma dalam cerpen Presiden Jebule, satu cerpen koran yang kemarin dimuat di rubrik cerpen koran Kompas Minggu, 5 Juni 2016. Pada permulaan cerita, rumusan ganjil yang digunakan sangat pas dan masih enak untuk dinikmati. Membikin tergelak-gelak, setidaknya sedikit menarik bibir ke arah yang berlawanan lah, ya.

Jebule adalah nama sebuah tokoh. Ia lahir dalam keadaan tidak normal. Lehernya miring. 

Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring.

Seorang dukun bayi yang buta huruf memastikan bahwa ia menjadikan leher Jebule menjadi lurus kembali. 

Demikianlah, setiap hari dukun bayi buta huruf ini datang ke gubuk ibu Jebule, memijat-mijat Jebule, menelusuri syaraf, otot, dan jalan darah Jebule, untuk mencari rahasia bagaimana cara membetulkan lehernya. Dia juga memijat-mijat tubuh ibu Jebule, terutama pinggulnya.
Akhirnya, dengan pertolongan Tuhan Seru Sekalian Alam, leher Jebule bisa dijadikan tidak miring.

Cerita kemudian bergulir mengenai perjuangan seorang Jebule. Tumbuh dalam kondisi lingkungan yang miskin tak membuat Jebule menjadi seseorang yang bodoh. Justru sebaliknya, ia menjadi seorang pengamat yang teliti. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan Jebule menebak bahwa seorang pesulap tidaklah ajaib seperti tampaknya. Namun hanyalah memiliki sebuah kemampuan menggerakkan tangan dengan cepat dan tangkas. 

Jebule tumbuh menjadi seorang pencopet—demi mempertahankan hidup. Ia tumbuh menjadi seseorang yang cerdas, pintar, cerdik, sekaligus tangguh—dalam artian secara fisik ia benar-benar tahan banting. 

Jebule diterima dalam kesatuan tentara. Di sana ia membaca dengan tekun yang berlebihan, dalam artian baik. Ia mempelajari biografi-biografi orang hebat dan terkenal. 

Berpijak dari bagian ini, cerpen Presiden Jebule oleh Budi Darma ini mulai bergulir ke arah yang membosankan. Kita sebagai pembaca bisa menebak ke arah mana dan siapa yang sedang dibicarakan dalam cerpen ini. 

Presiden Jebule adalah sosok-sosok diktator semacam Soeharto, yang memiliki kebijakan yang sungguh sewenang-wenang. Juga kebijakan Kim Jong Un yang tak kalah ’absurd’nya dalam memberlakukan sebuah peraturan. 

Dengan kepandaiannya bermain kata, menipu, berbohong, dan menjerumuskan musuh-musuhnya, akhirnya dia menjadi presiden. Bukan hanya sekadar menyiksa, membunuh pun bagi Jebule, adalah halal.
Jebule tahu, supaya semua orang tunduk, sebuah peraturan, yang tampaknya sederhana, harus dilaksanakan: potongan rambut dia harus ditiru oleh semua laki-laki, demikian juga cara berpakaiannya. Untuk menguji kesetiaan seluruh penduduk, dia pernah gundul, pernah cukur rambut pendek, pernah juga agak gondrong. Semua laki-laki mulai umur lima tahun sampai menjelang mati, harus ikut gaya rambutnya.

Hingga kemudian cerita beranjak ke arah yang pernah kita duga. Bagaimana rakyat berusaha memberontak dan menurunkn Presiden Jebule. Juga Presiden Jebule yang kemudian membacakan surat pengunduran diri, dan bagaimana tindakan tanggapan wakil yang hendak menggantikan menjadi presiden. 

Dari sini, bila kita rajin mengikuti tulisan-tulisan Budi Darma tentu tak akan menemukan kebaruan dalam cerpen Presiden Jebule. Malah, cerpen-cerpen terdahulunya seperti Laki-laki Pemanggul Goni, dan Pohon Jejawi malah menawarkan cerita ganjil yang jauh lebih baik dan dapat dinikmati. 

Tentu bukan salah penulis yang menggunakan rumus berulang dalam tulisannya. Pun, cerpen Presiden Jebule ini masih cukup enak dinikmati. Dibaca pun masih bisa dikatakan kita sebagai pembaca tak sedang membuang waktu percuma. Hanya saja, bagaimana sebuah tulisan yang begitu-begitu saja mampu berkembang dan dapat dinikmati kembali secara segar oleh pembaca-pembaca setia Budi Darma, memang membutuhkan usaha dan energi lebih. Juga, bagaimana sebuah tema tentang Soeharto yang beritanya mudah kita akses dalam berbagai versi (versi sebenarnya dan versi bikinan antek-antek Orde Baru) mampu disajikan ulang dengan segar. 

Seperti masakan, kita pembaca menikmatinya sebagai sebuah sajian baru, bukan sajian dengan tampilan berbeda namun sebenarnya itu hanyalah hal yang dipanaskan --agar tak basi. Nget-ngetan kalau orang Jogja bilang, atau blendrang alias sayur yang sudah dihangatkan berkali-kali kalau orang Jawa Timur berujar. 

Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "PRESIDEN JEBULE" karya Budi Darma (Sila Klik Tautan!)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.
Share:

Selasa, 01 Desember 2015

[Review Cerpen] Petrus


DENGAN terseret-seret, Petrus berjalan menyusur pantai seorang diri. Seretan kakinya meninggalkan bekas panjang di atas pasir. Tak terasa, dia telah berjalan jauh. Sebentar-sebentar dia berhenti, menatap ombak yang tinggi dan langit bergantian. Sesekali dia mendesah, tersenyum bahkan kadang berdecak kagum. Sampai di sebuah cadas yang tinggi, dia berhenti, menatap sejenak dan dengan beralaskan sepatu kulit kuna dia menaiki cadas itu. Dia duduk di atas cadas.

Petrus melamun, mengagumi alam dan kebesaran-Nya. Matanya nanar menatap kejauhan. Pantai tetap membisu, terasa angin sepoi menggigit tubuhnya. ”Mengagumkan,“ desahnya.

Lamunannya makin melambung tanpa sadar kekaguman telah mengusik emosinya. Tak dapat dibendung, air bergulir dari sudut matanya. ”Mengapa aku begitu cengeng?“ desahnya kesal. Dengan lembut dihapusnya air yang bergulir di pipi. Tiba-tiba wajah Petrus menegang. Air itu justru semakin deras mengalir dari sudut matanya. Tiba-tiba terdengar ayam jantan berkokok tiga kali. “Hukum telah menimpaku, ayam jantan itulah buktinya.“

Petrus teringat peristiwa kemarin.

”Petrus, kau tidak ke gereja?“ tanya ibunya.

"Tidak, untuk apa? Menerima abu? Mengapa meski di gereja?“

”Petrus, ingat kita umat Allah. Sekarang hari Rabu Abu. Pergilah ke gereja!“

”Persetan dengan Rabu Abu! Aku mau pergi!“

”Petrus! Kau telah memungkiri keyakinanmu,“ teriak ibu.

Petrus tidak menggubris. Bergegas dia berjalan keluar.

”Petrus, tunggu! Mau kemana kau?“

”Apa urusan Ibu?“

”Petrus, engkau anakku satu-satunya, jangan kecewakan ayah dan ibumu.“

”Persetan, lepaskan tanganku. Aku akan mengunjungi Miriam.“

”Berhenti kataku! Dengar, jangan kau sebut-sebut nama Miriam di rumah ini. Putuskan hubunganmu dengan pelacur itu!“

”Ha...ha...ayah pikir, siapa wanita yang sekarang duduk di samping ayah?“

”Petrus, tutup mulutmu yang lancang!“ bentak ayahnya.

”Ha...ha... ayah pikir dia wanita suci? Maria Magdalena, wanita yang ditolong  pelacur kelas tinggi. Tak heran jika mempunyai pavilion. Saat itu cuaca sangat dingin mencekam. Petrus asyik bercanda dengan Miriam. Petrus lupa kejadian di rumah, Petrus lupa peringatan ayahnya. Udara dingin makin menggigit. Petrus pun makin asyik. Petrus telah lupa pada masa lalunya.

Dulu, Petrus adalah sosok yang tegar, berkepribadian dan bijaksana. Di kalangan teman sebayanya dia sangat dihormati. Tetapi sosok itu tiba-tiba berubah. Petrus telah menjadi pembangkang dan pengacau. Perubahan itu tidak hanya diamati oleh ayah dan ibunya. Orang-orang di sekitar pun mengamati.

Terdengar desas-desus, Petrus berubah sejak berteman Miriam. Ayahnya pun tidak tinggal diam. Kemana pun Petrus pergi, ayahnya mengikuti. Akhirnya ayah mengetahui, Petrus memang berteman akrab dengan ayah ketika sedang dilempari batu.“

”Petrus! Lancang benar mulutmu. Ingat kau telah menyakiti ibumu dan aku. Kau akan hancur jika menghina Kami sekali lagi. Kokok ayam jantan akan mengingatkan perbuatanmu.“

”Ha...ha...“ Petrus berlalu dengan acuh.

Cepat-cepat Maria menarik tangan suaminya, memperingatkan dan memandanginya sayu.

“Jangan kau lakukan itu Kanda.“

”Tenang Dinda, kemarahanku sudah memuncak, pernyataanku tidak dapat dicabut. Anak itu sudah keterlaluan. Aku harus menghukumnya.”

“Kanda, mengapa kau larang dia menjalin kasih dengan Miriam?“

”Dinda... tak tahukah kau, Miriam pemuja Lucifer.“

”Darimana kau mengetahui hal ini, Kanda?“

”Dinda aku pernah datang ke rumah dan mengancamnya. Jika dia tidak meninggalkan Lucifer, dia harus meninggalkan Petrus.”

“Lalu, apa katanya?”

”Dia menolak, bahkan menertawakanku. Dia bahkan akan merayu Petrus untuk memuja Lucifer.“

”Oh... Kanda, bagaimana kita mempertanggungjawabkan hal ini pada Tuhan?”

“Tenanglah Dinda, Tuhan Maha Tahu.“

***
SEMENTARA itu, Petrus telah sampai di pavilion Miriam. Miriam memang seorang pelacur. Untuk membuktikan desas-desus penduduk sekitar, ayah Petrus mendatangi rumah Miriam.

Ayah Petrus mengetuk pintu rumah Miriam. Tak berapa lama pintu terbuka. Tanpa permisi, ayah Petrus masuk ke dalam rumah tersebut. Pandangannya terpaku pada tempat pemujaan di tengah ruangan.

***
”KANDA Petrus, mari kita kelilingi tempat itu.”

”Ah Dinda, mengapa kau rusak keasyikan kita?“

”Ayolah Kanda, ingatlah janjimu. Kau akan memenuhinya hari ini, ’kan?

”Tapi Dinda, nanti kan bisa.“

”Tidak! Ingat, jika kau ingkar janji, aku tidak tahu bagaimana nasibmu kelak.“

”Baiklah kutepati janjiku.“

Petrus terperanjat, cadas yang didudukinya makin goyah. Petrus sadar, air yang bergulir dari sudut matanya ternyata darah. Dan darah itu mampu mengikis cadas yang didudukinya. Makin lama cadas itu berlubang. Sedikit demi sedikit cadas itu hancur dan longsor. Petrus kehilangan keseimbangan. Dalam kekalutan dia berteriak ”Tuhan aku berjanji tidak akan mengingkari lagi, ampunilah aku.“

Terlihat oleh Petrus, ayah dan ibunya berdiri di atas air melambaikan tangan ke arahnya.

Laut kembali sepi, cadas itu pun tampak masih kokoh di sana. ***



SOROTAN CERPEN

Cerita pendek berjudul Petrus ini ditulis dalam konteks aktualisasi menyambut perayaan Paskah. Oleh karena itu, dalam cerita pendek ini diketemukan istilah Rabu Abu, yang oleh penyair T.S. Eliot disebut dalam judul sajaknya, Ash Wednesday, salah satu bagian dari upacara Paskah itu. Ciri lain lagi, adanya sebutan ayam berkokok, yang dalam kisah penyaliban Yesus menjadi penanda penyangkalan Petrus terhadap janji setianya sendiri. Namun yang menarik, semua sebutan itu tidak berhenti di sana, tetapi menjadi pancatan untuk masuk ke dalam penghayatan kehidupan umum sekarang ini.

Suasana cerita pendek ini kontemplasi yang mengajak pembaca merenungkan makna pertobatan dalam konteks Paskah itu. Namun karena penulis ini belum cukup berpengalaman, maka renungannya nampak kurang tuntas. Akibatnya, hidup nampak bagaikan gambaran hitam-putih dan sederhana. Jelasnya, cerita pendek ini menganggap tidak layak hubungan Petrus dan Miriam. Dalam hidup, hubungan semacam itu bisa jadi memancarkan cahaya religiusitas.

Apa pun yang disajikan Agnes Wijayanti dalam cerita pendek ini bersifat alegorik. Sayangnya, bagi pembaca yang kurang faham latar belakang sebutan-sebutan: Petrus, Miriam, Maria Magdalena, dan sebagainya itu, menjadi kendala dalam mencerna karya ini. Yang dibutuhkan bukan catatan kaki, tetapi pengolahan agar simbol-simbol alegorik itu bisa lebih dimengerti secara umum bagi pembaca yang berada dalam masyarakat majemuk. Agnes memerlukan bahan bacaan lebih luas, bukan hanya wacana atau discourse yang ditulis dalam buku-buku, tetapi juga wacana kehidupan nyata. (bakdi) 


Catatan:
[1] Artikel di atas  adalah cerpen berjudul "Petrus" hasil karya Agnes Wijayanti
[2] Artikel bagian bawah adalah sorotan cerpen yang ditulis oleh Bakdi Soemanto
[3] Pernah tersiar di surat kabar "Berita Nasional" (Koran Bernas) pada 24 Februari 1991 

Share:

Minggu, 15 November 2015

[Review Cerpen] Kuntau


Twist ending yang nendang adalah jawaban pertanyaan: apa kelebihan KUNTAU cerpen koran karya Benny Arnas yang diterbitkan koran Jawa Pos Minggu, 25 Oktober 2015. Cerpenis Benny Arnas dikenal selalu mengangkat tema lokalitas di dalam cerpen-cerpennya--selengkapnya sila simak karya-karya cerpen Benny Arnas ini. Dalam cerpen KUNTAU yang mengangkat kesenian bela diri tradisional Lubuk Linggau, Benny mampu memberikan informasi di dalam cerita secara tepat dan berimbang. Konflik yang digarap, informasi mengenai seni bela diri KUNTAU yang tidak sekadar tempelan, dan ending yang mengejutkan. 

Konflik yang Digarap

Cerpen KUNTAU dibuka dengan memunculkan konflik (yang pembaca akan kira sebagai ) permasalahan utama. Yakni, persaingan sengit di antara beberapa perguruan kuntau yang ada di Lubuk Linggau. Tersebutlah beberapa perguruan Kuntau yang memiliki kegiatan tahunan yang akan menghadirkan pertandingan antara pendekar-pendekar unggulan di masing-masing perguruan KUNTAU. 
Semua bermula ketik tersiar selentingan Tuan Amir Dinajad, guru besar Perguruan Kuntau Harimau Kumbang di Muara Kelingi mengatakan kalau pertandingan akbar kuntau yang akan digelar di sekayu, akan mereka menangi.
Permasalahan muncul ketika ada salah satu perguruan yang sesumbar dan membikin sakit hati dan panas telinga. Hal inilah kemudian yang menjadikan para pendekar dari dua wilayah yakni para pendekar dari Lereng Bukit Sulap di Lubuklingau dan para pendekar lereng Bukit Siguntang di Palembang bersatu. Tujuan mereka adalah satu yaitu memenangkan perhelatan  demi menyumpal mulut sesumbar Amar Dinejad.  
Para pendekar asal kedua negeri yang terkenal pongah itu pun akhirnya harus dikandangkan di Lereng Bukit Sulap. Ya, para guru besar dari Perguruan Sultan Berani, Musi mengamuk, dan Cakar Macam dari Palembang dan perguruan Harimau-Harimau dan Harimau Maung dari Lubuklinggau bersepakat utuk menyumpal mulut besar Amir Dinajad.
Konflik utama di dalam cerpen ini sebenarnya ‘tidak hanya’ mengenai pertandingan kuntau antar perguruan. Permasalahan utama di dalam cerpen koran Benny Arnas ini lebih pada konflik antara… mengenai… ah, sebaiknya Sobat Kliping Sastra membaca terlebih dulu mengenai cerpen Kuntau. Apabila tidak, maka twist ending pun kejutan yang ada di akhir cerita akan menjadi tidak kembali asyik. 
Di sinilah letak kepiawaian Benny Arnas dalam menyusun cerita. Bagaimana ia membungkus permasalahan utama dan menutupnya menggunakan permasalahan yang lain. 

Saat ‘pancingan’ konflik yang mewujud sebagai twist ending tersebut, Benny Arnas mewujudkannya menjadi sebuah hal yang biasa saja. Yakni, permasalahan antara pelatih dan murid. Pembaca akan menengarainya sebagai permasalahan biasa yang akan menyusun konflik utama cerpen ini, yaitu pertandingan kuntau. 

Kuntau Bukan Tempelan

Di dalam cerpen koran-cerpen koran, jamak kita temui tema yang selain mengangkat konflik perasaan (contoh: peristiwa 1965) cenderung hanya menjadi tempelan. Tetapi di dalam cerpen KUNTAU ini, Benny Arnas tak sekadar menjadikan olahraga bela diri khas ini hanya menjadi sekadar tempelan. 
Mengambil setting waktu pada tahun 1939 saat penjajahan kompeni, sebagai penulis dengan baik ia memasukkan permasalahan yang mendera dua perguruan kuntau beserta latar belakangnya. Ia juga memasukkan falsafah kuntau untuk menjelaskan bagaimana seharusnya para pendekar itu bertindak. 
“Kalian harus memahami apa hakikat kuntau yang sebenarnya,” ujarnya membuka latihan di hari pertama pertemuan para pendekar di Lereng Bukit Sulap.
Apabila dikerjakan oleh penulis lain, bisa jadi kuntau hanyalah dijadikan tunggangan pengantar berjalannya cerita tanpa diulik lebih lanjut. Namun, di tangan Benny ia berhasil menjelaskan dan mencampurkannya dengan baik ke dalam cerita. Tidak sekadar memindah informasi ‘mentah’ ke dalam cerpennya, namun sudah diolah dengan baik.
“Kuntau bukan sekadar beladiri kebanggaan Sumatera sebagaimana silat. Kuda-kuda kuntau tak pernah menunjukkan nafsu menyerang, tapi menyerap kekuatan lawan untuk kemudian menyaksikan bagaimana lawanmu akan jatuh terhuyung oleh keberingasannya. Kuntau bukan tentang mengalahkan, tapi memenangkan pertarungan di dalam diri sendiri. Bagaimana kalian akan mengalahkan lawan kalau melawan sosok yang paling kalian kenal saja kalian tak mampu. Tahu kalian siapa yang paling kalian kenal? Diri kalian sendiri.

Twist Ending

Twist ending yang baik akan berhasil mengecoh pembaca. Atau, bisa dikatakan pula akan memberikan pembaca kejutan. 

Di dalam cerpen ini, cerita mengenai pertandingan Kuntau disampaikan dengan lurus dan lancar. Untuk menuntun pada twist ending biasanya penulis memiliki kecenderungan memberikan pancingan-pancingan yang disebar pada keseluruhan cerita. Namun, Benny Arnas tidak.

Cara menyamarkan twist ending ini adalah dengan menyebar begitu ‘banyak’ permasalahan; permasalahan besar dan yang kecil-kecil. Sehingga, pikiran pembaca akan digiring untuk menebak-nebak bagaimana penyelesaian permasalah besar saja.

Dua perguruan kuntau bersatu karena ingin memadamkan sesumbar salah satu perguruan yang berkata bahwa pertandingan kali ini ia yang akan menang. Kemudian para pendekar dua perguruan itu bersatu, berlatih tekun, dan menghadapi pertandingan dengan hasil yang harap-harap cemas. Formula ini sering kita temukan dalam film-film Hollywood mengenai pertandingan olahraga maupun atlet. Penonton film yang mengikuti proses latihan mati-matian tentu akan penasaran bagaimana usaha dan hasil kelompok atau atlet olahraga tersebut menghadapi pertandingan dan mendapatkan hasil.

Tahun 1939 saat penjajahan kompeni dan sebentar lagi hari raya Idul Adha. Usaha menekan emosi dan menahan diri supaya tak marah sehingga menimbulkan kekacauan, berkali-kali diingatkan supaya tak terjadi hal tersebut. Selain tak ingin menodai kesucian hari raya Idul Adha, juga tak menarik perhatian para penjajah kompeni. 
"Dan, kita pernah mengalaminya. Ketika Tanjung Bara tewas di tangan Amir Dinajad! Kalian tahu, kami semua mati-amatian menahan amarah demi menghormati pertandingan. Pertandingan nahas itu berlangsung di bulan Syawal, sepekan bakda Idul fitri, sepekan bakda kami berjabat tangan dan berangkulan hangat.
Konflik antara pelatih dan yang dilatih. Ada ‘pertentangan batin’ di dalam hati Tanjung Hitam.
"Tapi Tanjung...," Tuan Guru Muhammad Amja menggantungkan kalimatnya di tengah-tengah perbincangan mereka tentang urutan nama petarung, “dalam tiga pekan ini aku melihat kau begitu bersemangat melatih pendekar dari Palembang itu.”
“Abdullah Kasip?”
Tuan Guru mengangguk. “Dia mirip almarhum ayahmu, kan?”
Tanjung Hitam mendongak.
Selimur atau usaha menutupi permasalahan utama berhasil dilakukan. Pada poin bagian manakah twist ending itu dimunculkan tentu tak akan ditulis di sini. Karena berpotensi mengurangi kenikmatan dan keasyikan bercerita. 

Secara keseluruhan, cerpen KUNTAU oleh Benny Arnas cerpen koran Jawa Pos Minggu 25 Oktober 2015 ini worth to read!
Suara Tuan Guru Muhammad Amja terdengar menggelegar, "Semua pendekar dari Palembang lekas ke stasiun dan semua pendekar dari Lubuklinggau kusilakan mengantar dengan kuda, kecuali Tanjung Hitam!"
***
TUAN Guru Muhammad Amja membuat Tanjung Hitam berlutut dan menangis sejadi-jadinya.


Catatan:
[1] Artikel di atas adalah ulasan yang disusun --secara subyektif-- oleh admin klipingsastra. Karenanya, para pembaca tetap dimerdekakan untuk mengeluarkan argumentasi --termasuk berbeda pendapat, memberikan saran, menuliskan sanggahan, dan juga memberikan kritik, demi kemajuan dan pembelajaran bersama.
[2] Sehubungan pada catatan nomor [1], sebelum menyimak ulasan ini kami sarankan untuk membaca dan menuntaskan terlebih dahulu "KUNTAU" karya Benny Arnas (Sila Klik Tautan!)
[3] Gambar diambil dari situs id.klipingsastra.com --sebagai ilustrasi cerpen yang dipajang pada surat kabar terkait.
Share:


Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Sastra Nusantara



Arsip Literasi